Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Pemuda Nusantara, Muhamad Adnan, dalam keterangan beberepa saat lalu (Rabu, 24/9).
Selama ini, ungkap Adnan, pengadilan opini yang sangat gencar bertalu-talu datang menerpa Anas sejak 2011 ketika Rosa Manulang dan Wafiz Muharam tertangkap tangan di kantor Kemenpora. Serangan pun datang bergelombang bagai air bah ketika Nazarudin yang merupakan sahabat dan sekutu politiknya di Partai Demokrat dalam pelariannya keluar negeri ikut menyerang dan menarik-narik Anas dalam pusaran korupsi hambalang
Tuduhan pun, lanjut Adnan, dimulai dari menerima gratifikasi mobil harier; aktor intelektual yang menjadi backup politik project Hambalang; serta membagi-bagi bagi duit kepada pengurus daerah dan pengurus cabang dalam kongres Demokrat di Bandung 2010; pencucian uang dengan membeli berbagai asset berupa rumah dan tanah antara lain di Jogjakarta untuk pesantren Krapyak milik mertua Anas Kiai Haji Atabik Ali; serta izin kepemilikan tambang di kabupaten Kutai Kalimantan Timur seluas 10 hektar dari rencana 100 Hektar
Anas kemudian menemukan panggungnya ketika proses peradilan mulai berjalan. Dalam proses persidangan yang berjalan terbuka, tuduhan yang ditimpakan kepadanya satu persatu mulai terkuak dan terbuka. Saksi saksi yang dihadirkan dalam persidangan dibawah sumpah yang jumlahnya 96 orang baik yang dihadirkan KPK maupun pihak pengacara Anas antara lain Rosa Manulang, Teuku Bagus, Mahfudz Surosa,Wafidz Muharom sebagian besar meringankan Anas. Hanya 4 orang saksi yaitu Nazar, Neneng isteri Nazar dan dua orang supirnya yang memberatkan Anas.
"Yang menggelikan dan ini bisa berdampak pada kredibiltas KPK, Majelis Hakim menegur keras Jaksa KPK agar saksi-saksi yang dihadirkan harusnya memberatkan terdakwa bukan malah meringankan terdakwa," demikian Adnan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: