"Saya kaget waktu melihat siaran televisi BBC bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan sistem pendidikan yang paling buruk di dunia, setelah Mexico dan Brazil," kata Hanafi, salah seorang, salah seorang pengurus di depan pengurus baru Yayasan Saint Mary di Patra Jasa Office Tower.
"Begitu mendarat di tanah air, saya didatangi utusan dari Hercules yang meminta agar lembaga Saint Mary, terutama mahasiswanya diselamatkan. Peristiwa-peristiwa yang terkait satu sama lain ini menjadi motivasi bagi saya untuk membangun kembali Saint Mary bersama pengurus yang baru," sambung Hanafi, sebagaimana keterangan yang diterima redaksi beberapa saat lalu (Sabtu, 16/8).
Tim pengurus yang kini mengelola lembaga ini adalah M.Hanafi (Ketua Pembina), Brigjen (Pur) Andreas R. Mere (Pengawas), Yohanes Sulistyadi (Pengawas), Andreas Hugo Parera (Pengawas), Putut Prabantoro (Pengawas), Erijanto Djajasudarma (Ketua Yayasan), Abraham Runga (Sekretaris), Petter Halem Davis (Bendahara), Adrian Jan Winata (Anggota) dan Melki Lakalena (Anggota).
Sebelumnya, manajeman LPK Saint Mary International terdiri dari Hercules Rozario Marshall (Pembina), Nia Dania (Ketua Yayasan), Ikhraman Thalib (Sekretaris) dan Titin Murtiningsih (Bendahara).
Perubahan Badan Pengurus Yayasan LPK Saint Mary International disahkan melalui akta Notaris No. 50 tanggal 28 Mei 2014.
[ysa]
BERITA TERKAIT: