Desakan itu dinilai sebagai bagian dari dinamika anak-anak muda.
"Kalau gak ngomong bukan anak muda namanya. Tapi omongan itu untuk aktualisasi diri saja . Tidak lebih," kata Wakil Sekjen DPP Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 16/7).
Karena itu, Lalu Mara menegaskan tidak ada yang istimewa dari desakan anak-anak muda itu kecuali untuk memenuhi kebutuhan eksistensial belaka. Lebih-lebih, anak-anak muda itu juga tidak memiliki hak suara dalam agenda-agenda Golkar yang penting.
Lalu Mara menegaskan, agenda Munas harus mengikuti keputusan Munas di Riau pada tahun 2009. Karena itu usulan mempercepat Munas sama saja melanggar kesepakatan yang sudah diputuskan sebelumnya.
"Masa bakti pengurus DPP 2009-2015, itu jelas. Jadi Munasnya digelar tahun 2015, masa ada pemotongan usia masa bakti?" kata Lalu Mara.
Ia pun menambahkan, Aburizal Bakrie selalu berkomunikasi dengan pengurus pusat maupun tingkat daerah. Dan hingga saat ini belum ada usulan resmi dari pemilik suara yakni DPD tingkat I terkait gelaran Munas.
"Ketum Aburizal selalu mengkomunikasikan proses komunikasi yang diambil DPD I juga pengurus DPP termasuk kepada kaum muda," demikian Lalu Mara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: