Memanipulasi Rekapitulasi Suara Jelas-jelas Kejahatan Demokrasi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 14 Juli 2014, 15:10 WIB
Memanipulasi Rekapitulasi Suara Jelas-jelas Kejahatan Demokrasi
ilustrasi/net
rmol news logo . Proses rekapitulasi suara dalam Pilpres 2014 dari seluruh tingkatan penyelenggaraan pemilu harus dilihat sebagai sebuah usaha menjaga suara rakyat. Sementara segala tindakan yang memanipulasi rekapitulasi adalah kejahatan demokrasi.

"Karena itulah terhadap temuan terjadinya berbagai bentuk manipulasi penghitungan suara baik dengan mengubah dokumen C1, maupun dengan menggelembungkan suara saat rekap dilakukan, dapat dikategorikan sebagai kejahatan demokrasi," kata Jurubicara Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, beberapa saat lalu (Senin, 14/7).

Menurut Hasto,  Tim Pemenangan Jokowi-JK percaya sepenuhnya pada penyelenggara pemilu, yang sangat memahami bahwa pemilu ini menentukan arah Indonesia ke depan. Hal ini mengingat KPU lahir sejalan dengan semangat reformasi, maka Jokowi-JK yakin bahwa KPU akan menjaga penuh seluruh integritas dan transparansi dalam rekapitulasi.

"Demikian halnya Bawaslu dan DKPP, akan terus mendorong pemilu yang benar-benar demokratis, dan jurdil, khususnya di dalam melindungi setiap suara rakyat yang telah disuarakan pada 9 Juli lalu," ungkapnya.

Untuk melindungi suara rakyat dari manipulasi, lanjut Hasto, Tim Jokowi-JK mengajak kekuatan pro-demokrasi seperti LSM, civil society, para pengamat politik, serta para relawan Jokowi-JK untuk mengawasi dan melakukan pengecekan ulang atas rekapitulasi di PPS dan PPK. Hasto menegaskan ketika dokumen C1 dan hasil rekap di tingkat desa dan kecamatan sudah bebas dari manipulasi, maka disitulah suara rakyat terlindungi.

"Semua pihak wajib menjaga situasi kondusif. Karena itu, ucapan terima kasih perlu dilayangkan kepada aparat TNI dan Polri yang telah menjaga keutuhan negeri. Dan hukum harus ditegakkan untuk menindak siapapun yang berbuat kecurangan," demikian Hasto. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA