Banyak kalangan bertanya-tanya akurasi isu yang disebutkan Prabowo, bahkan tak kurang isu ini menjadi bahan ejekan pendukung capres Jokowi pada debat capres ketiga tadi malam. Bagi kalangan aktivis, hal tersebut bukan hal baru, karena sejak lama wacana penjarahan sumber daya alam lewat pencurian, salah kelola, dominasi asing, dan korupsi yang menyertainya didengungkan kalangan aktivis.
Ton Abdillah Has, pendiri kelompok kajian Suluh Nusantara mengapresiasi Prabowo Subianto karena berani mengungkapkan hal ini secara terbuka ke publik. Selama ini isu kebocoran kekayaan negara hanya isu gorong-gorong, jauh dari perbincangan elit politik dan para pengambil kebijakan, padahal sejatinya ini merupakan penyebab utama kemiskinan yang masih mendera rakyat Indonesia.
"Coba bandingkan kita dengan Negara-negara Timur Tengah yang sejak lama menikmati kemakmuran, padahal jumlah kekayaan alam kita jauh lebih kompleks ketimbang Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan lain-lain. Belum pula stimulasi hutang luar negeri yang tiada henti pada tiap periode kepemimpinan nasional, serta kultur agraris yang disokong suburnya bumi pertiwi, harusnya Indonesia jauh lebih makmur ketimbang Negara-negara Arab," tandas mantan aktivis mahasiswa yang bergabung dengan Partai Golkar ini Senin malam (23/6).
Menurut Ton, angka kebocoran Rp 1.000 triliun setahun yang diungkapkan Prabowo Subianto merupakan angka yang rasional, bahkan boleh jadi kurang. Bahkan, dengan kerugian di sektor tambang dan minerba, sektor kehutanan, pertanian, dan kelautan dari seluruh penjuru republik ini yang sedang dieksploitasi habis-habisan, angka Rp 1.000 triliun setahun jelas terlalu sedikit.
"Kebocoran di Kalimantan Timur saja, yang menjadi lumbung energi, tambang, dan perkebunan diperkirakan hampir Rp 100 triliun setiap bulannya," demikian Ton.
[ysa]
BERITA TERKAIT: