"Gejala melemahnya rupiah sudah terjadi satu tahun terakhir. Terjadi empat defisit sekaligus. Quarto dificits ini menciptakan instabilitas dan tekanan terhadap rupiah," kata ekonom senior DR. Rizal Ramli kepada wartawan di Jakarta baru-baru ini.
Quatro deficits yang dimaksud Rizal Ramli yaitu defisit Neraca Perdagangan sebesar minus 6 miliar dolar AS, defisit Neraca Pembayaran sebesar minus 9,8 miliar dolar AS, defisit Balance of Payments sebesar minus 6,6 miliar dolar AS pada Q1-2013, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp 2.100 triliun. Menurut Rizal Ramli, quarto deficit ini tidak terjadi dalam semalam. Tanda-tandanya sudah tampak sejak dua tahun silam.
"Quarto deficits timbul karena pemerintah over konfidence. Ekonomi makro bagus, semua surplus tetapi lupa, semua surplus ini karena faktor internasional. Karena harga komoditi naik terus, dan banyak capital inflow yang masuk ke Indonesia," katanya.
"Begitu ada koreksi harga komoditi, misalnya harga batu bara, harga energi turun 30 persen , kita kelabakan. Demikian juga dengan berkurangnya aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia," sambung Menteri Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur ini.
Penyebab lain jatuhnya nilai tukar rupiah lantaran adanya ketidakpastian mengenai arah pembangunan ekonomi pemerintahan hasil Pilpres 2014. Terlepas dari itu, kata Rizal Ramli, sebenarnya keterpurukan rupiah sudah bisa dianalisa jauh-jauh hari dan bisa diambil langkah-langkah untuk mencegahnya.
"Tapi pemerintah "ketiduran". Ada kelemahan dalam antispasi, apalagi semua menteri ekonomi sibuk berpolitik. Kan tidak mungkin harga komoditi terus menerus naik selama 10 tahun. Pemerintah harusnya mempersiapkan diri ketika harga komoditi bagus, melakukan transformsi struktural, ada sumber-sumber ekspor dan sumber-sumber pendapatan yang lain. Ini keenakan karena harga komoditi naik terus begitu ada koreksi harga komoditi kita gagap," paparnya.
Pemerintah dan BI harus mengambil langkah untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Jika tidak dilakukan maka keterpurukan rupiah akan terus berlanjut. BI perlu melakukan intervensi, sementara Pemerintah perlu segera melakukan langkah-langkah strategis terkait kebijakan pemerintah di dalam industri, mengurangi impor, melakukan diversifikasi ekspor dan lain-lainnya.
"Tapi sayangnya saya lihat pemerintah sudah ogah-ogahan. Jelang akhir jabatan mereka tidak fokus, kebanyakan ngalor ngidul. Ini bsa membuka instabilitas baru. Suasana ini bisa berbahaya dan akhirnya memicu melemahnya rupiah lebih lanjut," demikian Rizal Ramli.
[dem]
BERITA TERKAIT: