Kasus kekerasan bernuansa intoleransi di Jogjakarta, pekan lalu misalnya, tidak bisa serta merta dikaitkan dengan pilpres. Karena, bukan baru sekali kejadian seperti itu terjadi di Jogjakarta. Bahkan jauh sebelum pemilu April lalu.
Demikian disampaikan konsultan komunikasi politik AM Putut Prabantoro dalam keterangan yang diterima redaksi. Putut ingin agar semua pihak, termasuk para pendukung pasangan capres-cawapres, menggunakan akal sehat dan hati yang jernih dalam melalui kompetisi politik ini.
"Antisipasi (agar kekerasan serupa tidak terjadi) yang harus dilakukan adalah optimalkan peran intelijen. Sekaligus para pendukung, aparat keamanan dan juga penyelenggara atau pengawas pemilu menghilangkan pikiran negatif (tentang kemungkinan
chaos),†ujar Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) ini.
Kondisi dan situasi kampanye memang terasa panas karena yang terjadi adalah kedua belah pihak secara tidak sengaja saling membuka dan memperebutkan “Kotak Pandora†yang berisi “kejahatan†para pemimpin dan tokoh bangsa pada waktu yang lalu.
Seluruh kejahatan, keburukan, sikap plin plan, aksi jilat ludah para tokoh bangsa yang dulu tak nampak dan tersimpan rapi dalam “Kotak Pandora†sekarang terbuka sedikit demi sedikit dan rakyat harusnya  membaca itu.
“Kita semua harus ingat ungkapan bijak yang mengatakan, kejahatan terbesar terjadi ketika orang baik tidak melakukan apa-apa saat ketidakadilan, ketidakjujuran atau kekerasan terjadi di depan mata. Artinya, kalau kita sebagai orang baik dan tidak melakukan apa-apa sebenarnya kitalah yang melakukan kejahatan. Politik bagaimanapun tetap membutuhkan kejujuran, keadilan dan kelembutan,†demikian Putut Prabantoro.
[dem]
BERITA TERKAIT: