Pertama, kata staf pengajar Departemen Pulmologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), dr. Diah Handayani, memahami informasi kewaspadaan kesehatan dalam perjalanan seperti memahami gejala influenza, infeksi saluran napas dan diare serta segera melaporkan kondisi kepada petugas di tempat kedatangan maupun keberangkatan.
Kedua, lanjut Diah, dalam keterangan kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 12/5), bila didapatkan gejala sakit pernafasan akut seperti demam, batuk atau yang lebih berat sesak hingga mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya meminimalkan kontak dengan banyak orang. Dan yang tak kalah penting menerapkan etika batuk, yaitu menutup hidung dan mulut bila batuk dan bersin, membuang tisu bila menggunakan tisu dan segera cuci tangan sesudahnya, atau menutupnya dengan lengan baju.
"Ketiga, bila seorang kembali dari Timur Tengah dan mengalami gejala penyakit saluran napas akut segera pergi ke Puskesmas, dokter atau fasilitas kesehatan lain terutama dalam dua minggu sejak pulang, serta sampaikan kepada petugas kesehatan bahwa penderita tersebut memiliki riwayat perjalanan ke negara Timur Tengah terutama haji dan umroh," kata Diah yang juga aktif di Unit Kajian Rokok dan Penyakit Respirasi Pengurus Pusat Islamic Medical Association and Network of Indonesia (IMANI).
Selama dalam ibadah haji atau umroh, saran Diah lagi, hindari kontak dengan hewan ternak terutama unta, dan hati-hati bila pergi ke peternakan, pasar hewan ternak ataupun rumah potong hewan ternak. Juga yang tak kalah penting, menghindari mengkonsumsi produk hewan ternak mentah seperti susu onta mentah, atau produk hewan mentah lainnya. Di saat yang sama, konsumsi makanan yang sehat dan bersih, sementara bila membeli makanan pilihlah yang matang dan tertutup sehingga terhindar kontaminasi berbagai kotoran termasuk kotoran hewan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: