Ekonom senior DR. Rizal Ramli mengatakan bahwa kesaksian Boediono yang adalah mantan Gubernur BI masih berputar-putar, dan terkesan berkelit untuk menghindarkan tanggung jawab. Adalah Boediono yang pada tanggal 20 November 2001 mengusulkan kepada KSSK agar Bank Century diberikan status baru yakni bank gagal berdampak sistemik.
"Maaf, Pak Boediono masih muter-muter (dalam kesaksiannya), karena sebetulnya masalahnya jauh sangat sederhana. Yakni bank ini tidak pantas untuk dibailout," ujar Rizal Ramli yang juga Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) itu.
Menurut Rizal ada dua alasan utama mengapa Bank Century tidak patut "diselamatkan". Pertama karena bank itu sudah bermasalah sejak awal didirikan. Sudah ada indikasi kejahatan perbankan. Karenanya, momen yang ada di tahun 2008 seharusnya digunakan untuk langsung menutup Bank Century.
Kedua, skala usaha Bank Century termasuk kecil. Sehingga, kalaupun ditutup nyaris tidak akan berdampak.
"Argumen yang mengatakaan akan berdampak sistemik adalah argumen yang sama sekali sangat menyesatkan. Saya curiga kesan krisis ketika itu dimanfaatkan sebagai kedok untuk menutupi kejahatan perbankan ini," kata dia lagi.
Rizal juga menyampaikan pengalamannya menghadapi krisis bank ketika ia menjabat sebagai Menko Ekuin di era pemerintahan Abdurrahman Wahid. Ketika itu BII yang ukurannya enam sampai tujuh kali dari Bank Century mengalami krisis. Tanpa mengeluarkan sepeser uang pun, pemerintahan Gus Dur berhasil menyelamatkan BII.
"Saya minta Bank Mandiri ambil
over Bank BII, supaya ada
umbrella of confindence. Kami ganti manajemen, dan
take over sementara. Dalam waktu enam minggu, uang mengalir kembali ke BII dan kembali stabil," demikian Rizal Ramli.
[dem]
BERITA TERKAIT: