Unjuk rasa digelar untuk menyambut kedatangan Ketua DPR, Marzuki Alie yang direncanakan mendatangi ITC M2. Namun, hingga menjelang Maghrib, batang hidug Marzuki Alie belum juga terlihat.
Laporan dari lapangan yang diterima redaksi menyebutkan sekitar seribuan pemilik sekaligus pedagang bersama karyawan toko ITC M2 berunjuk rasa persis di depan pintu utama.
Mereka membentangkan puluhan spanduk yang berisi berbagai pesan seperti, "Pedagang Tolak Marzuki", "Jangan Ikut Campur Urusan Pedagang ITC M2", "Jangan Intervensi Proses Hukum yang Sedang Berjalan", "Kami Minta Keadilan", dan "Marzuki Melanggar Konstitusi, Mengadu Domba Demi Kepentingan Segelintir Pedagang".
Aksi ini berlangsung sekitar satu jam.
Selain membentangan spanduk, demonstran juga menyanyikan yel-yel "
Pedagang Bersatu Tak Bisa Dikalahkan. Marzuki Kasian Deach Elo".
Kemarahan ribuan pedagang sekaligus pemilik kios menyambut kedatangan Marzuki Alie cukup beralasan. Ketua DPR dinilai terlalu ikut campur urusan pedagang dan melanggar konstitusi.
"Kami tidak pernah memberi mandat kepada siapa pun, termasuk kepada Marzuki Alie atau Efendy Gazali dan Kontras untuk mencampuri, apalagi mengintervensi masalah internal kami di ITC M2," ujar seorang pedagang bernama Acin yang mewakili teman-temannya membacakan pernyataan sikap.
Pedagang memiliki mekanisme AD/ART yang dijamin oleh UU untuk menyelesaikan masalah di ITC M2, sambungnya.
"Tidak ada hak ataupun kewenangan Ketua DPR atau Efendy Gazali atau Kontras dan siapa pun orang luar ITC M2 untuk mencampuri masalah internal kami," kata Acin berapi-api.
Acin juga mengatakan dirinya kecewa terhadap Marzuki Alie yang hanya mendengarkan suara segelintir pedagang yang berkunjung ke DPR beberapa waktu lalu.
"Anehnya, Marzuki justru tidak memberi kesempatan kepada mayoritas pedagang untuk berbicara. Ada apa ini? Inikah yang dinamakan demokrasi," ungkapnya. Pedagang lain, Aliong, mengatakan kenaikan
service charge sebesar Rp 80 ribu per bulan bukan masalah bagi mayoritas pedagang sekaligus pemilik kios di ITC M2. Sebab, kata dia, harga jual maupun sewa kios ITC M2 setiap tahun mengalami kenaikan.
"Kami sadar kenaikan
service charge tidak terelakkan. Saudara - saudara kami yang selama ini bekerja sebagai tenaga
security dan
cleaning service sudah semestinya menikmati kenaikan gaji. Apalagi Upah Minimum Provinsi (UMP) di Jakarta sudah naik beberapa kali," jelas pemilik kios di lantai IV ITC M2.
Junaidi, pedagang lainnya, menyesalkan kerisuhan yang terjadi setiap
service charge dinaikkan.
"Sudah tiga tahun,
service charge di ITC M2 tidak naik. Anehnya, setiap ada kenaikan, selalu orang yang sama jadi provokator di sini. . Kalau tidak mau dagang atau punya kios di sini, ya jual saja kiosnya kepada kami. Jangan bikin kisruh! Gitu saja kok repot!" kata dia.
Pedagang ITC M2, sambung Junaidi, hanya ingin berdagang untuk mencari nafkah hidup.
"Pelanggan ramai, harga kios naik. Semua ini bisa terwujud kalau suasana di ITC Mangga Dua tidak ricuh. Jangan hanya gara-gara ulah 35 pedagang, ribuan pedagang lainnya menjadi terganggu mencari nafkah. ITC M2 tempat kami cari makan, bukan ajang politik," tambahnya.
[dem]