Di Libanon, jumlah pengungsi mencapai 1 juta lebih, yang terdiri dari 49 persen pria dan 51 persen wanita. Namun jumlah pengungsi yang begitu banyak ini tidak tertangani dengan baik, dan apalagi karena kelompok masyarakat di Libanon juga terpecah menyikapi konflik di Suriah; ada yang pro pada kelompok bersenjata dan ada yang pro pada pemerintahan Assad.
Melihat kondisi ini, sekelompok anak muda Indonesia, yang pernah menimba ilmu di Suriah, merasa tergerak untuk memberikan bantuan kepada pada para pengungsi Suriah, khususnya yang ada di Libanon. Untuk menghimpun dan menyalurkan bantuan ini, mereka pun membentuk komunitas bernama Soekarnocare.
"Kami beri nama Soekarnocare karena lebih bisa diterima di negara-negara Timur Tengah. Di Timur Tengah, bila mereka bertemu dengan orang Indonesia, yang mereka katakan adalah Ahmad Soekarno. Kami juga sengaja pakai nama ini karena tidak mau terjebak pada penilaian orang terkait sektarianisme," kata Muhammad Baagil, aktivis Soekarnocare, saat berkunjung ke redaksi
Rakyat Merdeka Online, Selasa sore (25/3).
Nama organisasi ini, ungkap Muhammad, semata-mata terinspirasi juga oleh semangat dan gerakan kemanusiaan yang dilakukan Presiden Soekarno di dunia internasional. Komunitas ini tidak terkait secara organisatoris dengan lembaga, atau yayasan, atau komunitas, atau keluarga Presiden Soekarno.
"Organisasi ini dibentuk untuk membantu rakyat Suriah dengan tidak memandang agama, suku, ras, sekte atau orientasi politik manampun," demikian Muhammad.
[ysa]
BERITA TERKAIT: