PESAWAT MH370 HILANG

Tragedi MH370 Juga Bisa Membuktikan Kapasitas Pertahanan Udara Malaysia dan Indonesia Lemah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 25 Maret 2014, 06:58 WIB
Tragedi MH370 Juga Bisa Membuktikan Kapasitas Pertahanan Udara Malaysia dan Indonesia Lemah
dradjad h wibowo/net
rmol news logo . Berdasarkan data dari UK Air Accidents Investigation Branch (AAIB) dan Inmarsat, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mengatakan bahwa penerbangan MH370 berakhir di Samudra Hindia Selatan. Najib sangat percaya dengan analisis dari dua lembaga yang menyediakan data satelit penerbangan itu.

Di Indonesia, dengan menggunakan doppler effect, atau memanjang dan memendeknya gelombang dari obyek yang bergerak yang dipakai para analis di Inmarsat Inggris juga, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad H Wibowo, mengatakan bahwa tragedi MH 370 ini memunculkan banyak pertanyaan. Salah satunya adalah tentang kapasitas pertahanan udara Malaysia, dan juga negara-negara ASEAN yang mungkin dilalui MH370 setelah hilang kontak.

"Bagaimana mungkin pesawat sebesar 777 jetliner tidak terdeteksi oleh radar primer, atau radar militer Malaysia setelah dia berputar balik? Jika radar primer mereka mampu mendeteksi, mengapa tidak ada respon dari Angkatan Udara Malaysia? Bagaiman jika seandainya pesawat tersebut dibajak dan diarahkan menghantam Petronas' Twin Tower?" kata Dradjad kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 25/3).

Melihat jalurnya terbang ke selatan sebagaimana analisa Inmarsat, menurut Dradjad, ada kemungkinan MH370 juga terbang di wilayah udara Indonesia sekitar Sumatra. Dan bila benar demikian, pertanyaan Dradjad, mengapa TNI AU tidak pernah mengumumkan adanya obyek tidak dikenal yang melintas wilayah udara Indonesia? Apakah TNI AU mendeteks ini atau tidak.

"Jika terdeteksi, kemana pesawat-pesawat tempur kita? Kenapa diam saja?" tanya Dradjad lagi.

Menurut Dradjad, tragedi MH370 merupakan isu yang harus menjadi keprihatinan bersama, apapun partai politiknya, karena menyangkut pertahanan udara Indonesia. Apalagi, laut Indonesia juga sudah diacak-acak kapal-kapal asing yang mencuri ikan seenaknya tanpa mampu dicegah TNI AL secara efektif.

"Jangan sampai wilayah udara kita yang sedemikian luas menjadi seolah-olah daerah tidak bertuan karena kelemahan kapasitas pertahanan udara," demikian Dradjad. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA