Enam negara kekuatan dunia yang dimaksudkan adalah lima anggota tetap Dewan keamanan PBB (permanent members) yakni Amerika Serikat, China, Inggris, Prancis, dan Rusia ditambah Jerman atau disebut P5+1.
Pertemuan tersebut dilakukan ditengah ketegangan yang terjadi antara negara-negara Barat dan Rusia terkait krisis Ukraina.
Seperti diketahui bahwa pada Senin (17/3), Amerika Serikat serta Uni Eropa melayangkan sanksi pada sejumlah pejabat tinggi Rusia berupa larangan perjalanan serta pembekuan aset sebagai bentuk kecaman atas dukungan Rusia terhadap Krimea.
Namun sejumlah diplomat dan perwakilan negara yang hadir dalam acara tersebut menyebut bahwa ketegangan antara Barat-Timur terkait Ukraina tersebut tidak mengganggu upaya damai terkait nuklir Iran.
"Saya tidak melihat efek negatif apapun," kata juru bicara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Michael Mann yang juga mengkoordinasi pertemuan tersebut seperti dilansir
Reuters."Kami melanjutkan pekerjaan kami dengan mode terpadu," lanjutnya.
Sementara itu, negosiator nuklir Iran Abbas Araqchi juga menyebut bahwa krisis Ukraina sejauh ini tidak memberikan dampak dalam pertemuan tersebut.
"Kami juga lebih suka p5+1 memiliki pendekatan terpadu demi negosiasi," jelasnya sambil menambahkan bahwa pembicaraan sejauh ini berjalan positif dan sangat baik.
Araqchi menjelaskan bahwa pertemuan putaran selanjutkan diperkirakan akan digerlar pada 7-9 April mendatang di Wina.
Rusia dan negara-negara Barat sebelumnya kerap memiliki pandangan berbeda menegnai bagaimana menangani masalah nuklir Iran. Rusia secara umum mengaku menikmati hubungan hangat yang dibangun dengan Iran dan menyebut bahwa kekhawatiran barat mengenai senjata nuklir Iran berlebihan.
Antara tahun 2006 dan 2010, Rusia dan China juga menyatakan sikap enggan mendukung empat putaran sanksi PBB yang diberikan terhadap Iran terkait kegiatan nuklirnya. Rusia juga kerap mengutuk sanksi yang diberika Amerika Serikat dan Uni Eropa yang diberikan kepada Iran.
Iran sendiri telah lama membantah tuduhan Barat dan Israel yang menyebut bahwa Republik Islam tersebut tengah mengembangkan kemampuan untuk membangun produksi senjata atom dengan dalih program energi nuklir sipil.
Ketegangan nuklir Iran tersebut telah berlangsung selama satu dekade terakhir hingga presiden Iran yang baru terpilih tahun lalu Hassan Rouhani membuat kebijakan untuk mengakhiri isolasi internasional dengan menggelar pembicaraan damai dengan P5+1 pada November tahun lalu.
Dalam pertemuan November lalu, Iran dan P5+1 membuat perjanjian sementara untuk menghentikan sejumlah pengayaan uraniumnya dan sebagai imbalan, enam negara kekuatan dunia memberikan bantuan serta menarik sejumlah sanksi terhadap Iran.
[ysa]
BERITA TERKAIT: