Direksi PT Timah Dinilai Gagal Urus Perusahaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Minggu, 16 Maret 2014, 14:20 WIB
Direksi PT Timah Dinilai Gagal Urus Perusahaan
ilustrasi/net
rmol news logo . Direksi PT Timah dinilai gagal mengurus perusahaan dan gagal menciptakan peluang kesejahteraan bagi masyarakat Bangka Belitung dan sekitarnya.

"Sebagai orang yang membangun pertama kali Provinsi Babel, kami, sangat kecewa saya dengan direksi Timah," kata mantan anggota Presidium Pembentukan Provinsi Bangka Belitunh, Husnie Effendie, dalam keterangan pers di Jakarta (Minggu, 16/3)

Bukan hanya Husnie Effendie yang menyesalkan kegagalan Direksi PT Timah ini.  Mantan Pejabat PT Timah dan Pemegang Saham Djunaidi Mustar, mantan Ketua DPRD Provinsi Babel 2004-2009 Munir Saleh, dan mantan Walikota Pangkal Pinang sejak 2003-2013 Zulkarnain Karim  juga menyesalkan hal serupa.

Selama dua tahun masa kepemimpinan Sukrisno di PT Timah, lanjut Husnie, semua janji program investasi di Babel yang sudah dirintis oleh Direksi terdahulu tak satupun dilanjutkan oleh Sukrisno. Diantaranya adalah rencana pembangunan Menara Timah, Pembangunan Stania Ecopark, dan Pembangunan Tin Chemical.

Anehnya, Sukrisno justru membawa PT Timah untuk investasi eksplorasi di Negara Myanmar dengan estimasi biaya 12 juta dolar AS. Padahal resiko politik dan keamanan sangat tinggi di negara itu. Dan hal itu bertentangan dengan prinsip pembangunan yang diutarakan Presiden SBY., yakni pembangunan nasional harus memaksimalkan sumber daya di dalam negeri.

"Mereka datang dengan ide membuat Tin Chemical. Kenyataan, di 2009, investasi itu malah dibangun di Banten, bukan di Babel. Mereka janji bangun menara televisi. Itupun tak ada realisasi. April 2012, Direksi janji ke saya mewujudkan. Tapi sampai sekarang tak ada," bebernya.

Sementara Djunaidi Mustar, mengaku beberapa kali hadir di RUPS PT Timah dan mengkritisi kinerja direksi dalam beberapa periode. Prinsipnya, dia berharap direksi bisa membenahi dan tingkatkan kinerja perusahaan, dan memberi manfaat ke masyarakat di Babel. Namun melihat kinerja saat ini, dirinya justru banyak mendapat data-data aneh.

"Neraca keuangan aneh menyebutkan keuntungan Rp 515 miliar di 2013. Harga timah memang sedang meningkat, namun tak bisa dimanfaatkan oleh perusahaan karena produksi justru merosot tajam. Ternyata ditemukan bahwa utang perusahaan bertambah lebih dari Rp 1,4 triliun. Berarti yang mereka sebut keuntungan itu adalah sebenarnya sisa utang yang belum dipakai," sesalnya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA