Hal tersebut disampaikan pakar tumbuh kembang otak anak, psikolog neuro yang juga direktur Institute for Neuro Physiological Psychology di Chester, Sally Goddard Blythe seperti dilansir
Daily Mail pada Kamis (13/3).
Dijelaskan, ketergantungan yang berlebihan pada kereta bayi terutama yang menghadap ke depan dapat mengurangi waktu bagi anak berinteraksi dengan orang tua dan mengeksplorasi gerakan anak.
Efek serupa juga muncul dengan maraknya penggunaan tablet dan smartphone. Anak-anak menjadi tidak cekatan untuk bermain, bernyanyi, ataupun berbicara.
"Perhatian, keseimbangan dan koordinasi keterampilan yang dipelajari selama 36 bulan pertama kehidupan memerlukan dukungan pembelajaran kognitif dan berkaitan dengan kinerjanya di sekolah kelak," kata Blythe.
Ia mengingatkan bahwa anak membutuhkan kesempatan untuk bisa bergerak lebih agar bisa mengeksplorasi banyak hal. Selain itu, lanjut Blythe, anak juga butuh belajar mengenai interaksi sosial melalu berbagai cara seperti bernyanyi, berbicara, bahkan
dengan kontak mata sekalipun.
"Itu tidak akan terjadi jika seorang anak (diletakkan) di kereta bayi yang menghadap ke depan dan ibunya menggunaka
n smartphone-nya," jelasnya.
Blythe menambahkan bahwa kurangnya eksplorasi fisik dan interaksi sosial akan menyebabkan keterampilan fisik anak menjadi kurang matang. Dengan demikian, anak akan memiliki kemampuan yang kurang untuk tampil baik di tes kurikulum nasional, meskipun mungkin mereka cerdas.
Lebih lanjut ia menyebut bahwa penggunaan kereta bayi, kursi bayi, ataupun perangkat elektronik seperti tablet dan smartphone sebenarnya bukan masalah jika hanya digunakan sesekali waktu dan tidak berlebihan
"Mungkin ada budaya di kalangan orang tua generasi baru yang tidak memahami bahwa perangkat tersebut hanya boleh digunakan sebagai alat, bukan perangkat yang digunakan untuk menjaga bayi anda dalam waktu yang lama," jelasnya sambil menambahkan bahwa anak lebih membutuhkan eksplorasi gerak fisik seperti duduk, berbaring, dan merangkak untuk membantu koordinasi demi pengembangan jalur di otaknya yang menjadi fondasi fisik untuk pemecahan malasalah di kemudian hari.
Kepala eksekutif dari London Early Years Foundation, June O'Sullivan mempertegas pernyataan Blythe dengan menyebut bahwa tahun-tahun awal perkembangan anak adalah dasar bagi keberhasilannya mendatang, baik di sekolah, berinteraksi dengan teman-teman, bahkan membentuk kehidupannya ketika dewasa kelak.
[wid]
BERITA TERKAIT: