SBY tercatat sebagai juru kampanye nasional (jurkamnas) partai berlambang mercy itu di sejumlah daerah. SBY akan membantu kemenangan sejumlah caleg DPR di daerah-daerah. Dan dipastikan SBY juga akan berkampanye untuk putranya Ibas Yudhoyono di kampung kelahirannya di Pacitan, Jawa Timur.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai tidak ada yang salah dalam hal SBY ingin bertindak sebagai jurkamnas. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari negara demokrasi yang menganut azas multi partai. Hanya saja dipandang dari sisi etika politik, rasanya SBY tidak pantas untuk berkampanye di banyak daerah walau mengambil cuti di hari libur.
"Ingat, jika SBY berpergian hak dan kewajiban selaku Presiden dan kepala negara masih melekat pada diri SBY. Akibatnya, pengamanan dan protokoler juga melekat pada diri SBY. Berapa banyak anggaran negara tersedot untuk kampanye SBY? Sebaiknya SBY duduk manis dan berkonsentrasi penuh menuntaskan amanah rakyat sebagai presiden ketimbang kampanye," ujar Ari Junaedi kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 10/3).
Dalam pandangan pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia, Jakarta ini, niatan SBY untuk menjadi jurkamnas sebenarnya bisa "dibaca" sebagai bentuk kekhawatiran SBY akan merosotnya raihan suara Demokrat di Pemilu Legeslatif mendatang. Sejalan dengan hasil survei berbagai lembaga jajak pendapat yang kredibel, raihan suara Demokrat diprediksikan maksimal hanya meraup 9 persen suara.
"Ada semacam kegalauan stadium lanjut dari SBY melihat elektabilitas Demokrat yang terjun bebas. SBY tidak ingin partai yang didirikannya menghunjam di dasar klasemen parpol-parpol peraih suara yang paling jeblok. Padahal, publik masih menanti legacy SBY di akhir jabatannya," demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: