Meski dikatakan bahwa dalam acara tersebut tidak akan ada wawancara dengan Corby, media Australia tersebut akan memunculkan wawancara dengan kakak tertuanya. Dan meski di Australia tindakan Corby dikecam oleh publik dan para politisinya, namun di Indonesia, pemerintah khususnya Kakanwil Hukum dan HAM di Bali, menyerah pasrah.
"Kakanwil seolah tidak dapat menandingi rengekan dari kakak Corby, Mercedes, agar media Australia bisa melakukan tayangan terkait Corby," kata Gurubesar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 2/3).
Hikmahanto yakin publik di Indonesia sudah pasti akan marah. Publik akan mempertanyakan betapa tidak berdaya seorang pejabat menghadapi manuver seorang narapidana. Publik pun akan mempertabnyakan kistimewaan Corby sebagai narapidana bila dibandingkan dengan narapidana lain.
"Menjadi pertanyaan, tidakkah Kakanwil Hukum dan HAM dapat memperkirakan dampak dari tayangan Corby tersebut bagi publik Indonesia?" Apakah pemerintahan SBY yang akan segera mengakhiri masa jabatannya harus menanggung cemoohan masyarakat karena ketidaktegasan Kakanwil Hukum dan HAM?" ungkap Hikmahanto menggugat.
"Apakah pemerintahan SBY akan dikenal sebagai pemerintahan yang memberi banyak keistimewaan bagi narapidana kejahatan serius narkoba? Apakah demi HAM dan kebebasan pers, rakyat Indonesia harus menelan pil pahit pemerintahnya membiarkan narapidana narkoba untuk mendapatkan keuntungan komersial yang besar?" demikian Hikmahanto.
[ysa]
BERITA TERKAIT: