Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan Institut Sax Australia. Dalam studi disebutkan bahwa sedentary lifestyle atau gaya hidup dengan melakukan pekerjaan yang menuntut tubuh untuk tidak berpindah-pindah atau duduk, memiliki kaitan dengan penyakit hati, diabetes, dan kanker tertentu. Gaya hidup dengan duduk berkepanjangan berpengaruh pada tubuh manusia, fisiologis, dan metabolik yang telah dikenal dengan istilah penyakit duduk atau "sitting disease".
"Sitting disease' adalah deskripsi dari sedentary lifestyle yang telah dibuat menjadi frasa yang diciptakan ketika komunitas medis mulai mengasosiasikan peningkatan dalam kesehatan kardiovaskular (sistem peredaran darah) dengan ketidakaktifan (gerak), umumnya dengan duduk," kata physiatrist atau pakar saraf, otot, dan tulang dari rumah Sakit operasi khusus di New York, Dr. Alice Chen.
"Melampaui implikasi kardiovaskular, sedentary lifestyle mempengaruhi pasien dan memicu sakit leher serta punggung karena terhentinya pertumbuhan atau keterbelakangan otot inti perut dan gluteal," jelasnya.
Oleh karena itu, jelas Dr. Chen, untuk mengimbangi kebiasaan duduk tersebut, ia menyarankan agar sering berjalan untuk membuat tubuh bergerak sekalipun di tempat kerja.
"Saya mendorong pasien-pasien saya untuk bangkit dari bangkunya sejam sekali. Bangkit untuk bertanya kepada rekan kerja. Bangkit untuk pergi ke pendingin air atau untuk menapaki tangga bila memungkinkan," kata Chen.
Namun jika jam kerja tidak memungkinkan untuk membuat anda bangkit dari kursi dan bergerak, maka sejumlah produk seperti meja kerja berdiri dan kursi stabilitas (kursi dengan dudukan bola angin) bisa membantu otot anda untuk tetap bergerak sekalipun sambil melakukan pekerjaan.
[dem]
BERITA TERKAIT: