Isu Penyadapan Juga Bisa Jadi Modus Balik Badan Elit PDI Perjuangan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 21 Februari 2014, 12:00 WIB
Isu Penyadapan Juga Bisa Jadi Modus Balik Badan Elit PDI Perjuangan
ilustrasi/net
rmol news logo . Ada banyak tafsir di balik isu penyadapan terhadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan juga aksi membuntuti Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Tafsir ini bahkan terjadi di internal PDI Perjuangan. Tafsir yang muncul diantaranya, upaya balik badan dari sekelompok orang. Modus operasi ini dinilai benar-benar halus, dan bahkan tidak terbaca oleh pengamat yang suka memandang di permukaan.

Sejak nama Joko Widodo mencuat sebagai capres, politisi PDI Perjuangan terbelah menjadi dua; ada yang masih mendukung Megawati menjadi presiden, dan ada juga yang mendukung Jokowi. Megawati sendiri, yang punya otoritas untuk menentukan capres, belum menyampaikan sikap.

Masing-masing kelompok ini saling serang satu sama lain. Namun karena banyak politisi PDI Perjuangan yang memiliki jam terbang tinggi, pertarungan ini berlangsung smooth. Di permukaan nampak adem, namun di belakang layar saling sergap. Masing-masing kelompok ini pun terus memberi masukan kepada Megawati agar mendukung langkahnya.

Belakangan ada sinyal yang dibaca dari Megawati, PDI Perjuangan akan mengusung Jokowi sebagai capres. Bisa dikatakan, keputusannya sudah hampir 90 persen.

Melihat sinyal ini, maka isu penyadapan dimunculkan oleh pihak yang selama ini mendukung Megawati sebagai capres. Dengan cara ini, modus mereka yang selama ini "mengekerdilkan" Jokowi terhapus, dan seakan-akan sudah mendukung Jokowi juga sebagai capres. Dengan operasi ini, maka akan terlihat mereka seperti menjadi "pembela" Jokowi.

Modus ini akhirnya, mau tak mau, diamini juga oleh kubu sebelah. Tujuannya adalah untuk menjaga soliditas demi menyongsong kemenangan. Apalagi salah satu cara yang ampuh menyatukan barisan, adalah dengan memunculkan ancaman dari luar. Modus ini, yang awalnya jadi modus balik badan sebagaian, pun akhirnya jadi agenda partai untuk menghadapi peperangan.

Di luar tafsir internal, ada juga penilain PDI Perjuangan  sedang menggunakan cara "terzalimi" untuk pencitraan. Dengan modus ini, besar harapan dukungan publik kepada PDI Perjuangan di Pemilu 2014 melimpah ruah, dan akhirnya mengantarkan partai berlambang banteng moncong putih itu ke kursi kekuasaan.

Di sisi lain, ada juga yang menilai PDI Perjuangan sedang melancarkan serangan psikologis kepada TNI atau purnawirawan jenderal. Dengan isu ini PDI Perjuangan seakan-akan menyampaikan sinyal dan pesan jelas; apakah mau bergabung dengan PDI Perjuangan yang mau sunrise, atau masih di belakang SBY yang mau sunset. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA