PDIP Bisa Juga Sedang Mengancam dan Menodongkan Senjata Lewat Isu Penyadapan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Jumat, 21 Februari 2014, 11:10 WIB
PDIP Bisa Juga Sedang Mengancam dan Menodongkan Senjata Lewat Isu Penyadapan
pdip/net
rmol news logo . Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fahri Hamzah, menantang PDI Perjuangan untuk membuka saja siapa pihak yang diduga menyadap para petingginya, termasuk menyadap Megawati Sukarnoputri dan Jokowi. Di saat yang sama, PDI Perjuangan diminta  transparan mengungkap sumber informasi itu. Bila tidak terbuka, bisa saja PDI Perjuangan memang sedang mencari simpati publik seakan-akan dianiaya.

Penilaian dan tantangan Fahri ini satu sisi. Artinya, PDI Perjuangan bisa dinilai sedang menggunakan cara "terzalimi" untuk pencitraan. Dengan modus ini, besar harapan dukungan publik kepada PDI Perjuangan di Pemilu 2014 melimpah ruah, dan akhirnya mengantarkan partai berlambang banteng moncong putih itu ke kursi kekuasaan.

Di sisi lain, ada juga yang menilai PDI Perjuangan sedang melancarkan serangan psikologis, atau membuka perang psikologis (psywar). Sasaran tembak PDI Perjuangan adalah TNI. Dengan isu ini PDI Perjuangan seakan-akan menyampaikan sinyal dan pesan jelas kepada TNI; apakah akan ikut PDI Perjuangan atau masih berpihak pada SBY yang sebentar lagi akan lengser; apakah mau bergabung dengan PDI Perjuangan yang mau sunrise, atau masih di belakang SBY yang mau sunset.

Ada juga pandangan yang berkembang, cara ini untuk menjatuhkan mental sebagian purnawirawan jenderal yang berada di barisan kompetitor PDI Perjuangan. Dimaklumi, para purnawairan jenderal ini mulai menyebar dan menyemut ke beberapa bakal calon presiden. Bahkan, ada juga beberapa purnawairan jenderal yang disebut "bermain dua kaki" atau malah "bermain tiga kaki." Sinyal PDI Perjuangan ini jelas, mengulurkan tangan bagi yang mau bergabung, atau "menodongkan senjata" bagi yang keukeuh berada di pihak seberang.

Karena itu, untuk menepis tudingan, atau kecurigaan ini, PDI Perjuangan memang harus terbuka. Bahkan bila perlu menunjukkan pada publik alat sadap yang katanya digunakan di tiga titik di rumah Jokowi. PDI Perjuangan, juga perlu kembali menyeret orang yang pernah membuntuti Megawati hingga ke rumahnya, hingga bisa dibongkar otak intelektuanya. Bila ini tak dilakukan PDI Perjuangan, seribu bantahan pun akan memicu 10 ribu kecurigaan. [ysa] 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA