"Sadap menyadap itu bukan hal yang luar biasa. Maka orang tua kita dulu berpesan, awas dinding punya telinga. Artinya, kita pasti disadap kok. Karena itu, kitanya yang harus hati-hati agar komunikasi kita tidak dimengerti oleh penyadap" kata mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais), Soleman B Ponto.
Soleman mengatakan, belum tentu yang disadap itu merupakan kabar atau berita yang benar. Dan belum juga penyadap percaya informasi yang dia poroleh adalah valid.
"Misalnya, saya keluarkan 1.000 berita. Paling dua berita yang benar," ungkap Soleman, dalam talkshow di salah satu televisi swasta pagi ini (Kamis, 20.2).
Si penyadap, ungkap Soleman, harus memilih dua berita dari 1.000 berita itu. Dan ketika dua berita itu didapatkan, belum tentu juga bisa dibaca dan dipahami karena sudah berbentuk sandi.
"Tidak mungkin kita memproteksi diri agar tidak sampai tersadap. Karena kita tahu kita disadap, maka kita buat sandi hingga tidak dipahami. Disadap bisa, tapi belum tentu dipahami," demikian Soleman.
[ysa]
BERITA TERKAIT: