"Karena dari tren dukungannya yang terlihat dari survei, Demokrat sulit meraih suara di atas 10 persen. Untuk posisi cawapres pun, demokrat juga sulit dilirik capres lain. Karena elektabilitas para peserta konvensi tak ada yang kuat," kata pengamat politik Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaraby, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 18/2).
Pernyataan Adji ini menanggapi perkataan Ketua Dewan Pembina Demokrat, EE Mangindaan, yang menyebutkan bahwa jika Demokrat hanya memperoleh 7 sampai 10 persen dalam Pemilu mendatang, Demokrat akan mengusung pemenang Konvensi sebagai cawapres atau bahkan hanya dijatah posisi menteri. Demokrat baru akan mengusung capres bila suara Demokrat mencapai 15 persen.
Menurut Adjie, jika di bawah 10 persen, maka posisi Demokrat sama dengan partai lain, dan harus bersaing untuk merebutkan posisi cawapres. Dan citra partai yang negatif di mata publik, juga menyulitkan posisi tawar Demokrat ke capres lain untuk posisi cawapres.
"Jika skenarionya di bawah 10 persen, pilihan yang paling realisitis ada berkoalisi dengan capres yang paling besar peluang menangnya. Tawaran yang realistis ya hanya menempatkan kadernya dalam kabinet," demikian Adjie.
[ysa]
BERITA TERKAIT: