Media Australia Soroti Sikap Tegas Menteri Marty Natalegawa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Sabtu, 15 Februari 2014, 13:01 WIB
Media Australia Soroti Sikap Tegas Menteri Marty Natalegawa
marty natalegawa/net
rmol news logo . Media Australia, Australia Broadcasting Corporation (ABC) menyoroti protes yang dilayangkan oleh pemerintah Indonesia terhadap pemerintah Australia terkait kebijakannya terkait pencari suaka.

Hal tersebut menyusul panggilan Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa pada awal minggu ini. Panggilan tersebut dilakukan untuk menyampaikan protes Indonesia terkait kebijakan Australia dalam pengembalian pencari suaka.

Seperti dilansir ABC (Jumat, 14/2 dan diperbaharui Sabtu 15/2), Marty menyebut bahwa Australia telah melanggar komitmen internasional dengan menerapkan kebijakan penjagaan perbatasannya yang menghadang dan mengembalikan pencari suaka yang akan masuk ke wilayah Australia. Namun kebijakan Australia saat ini lebih parah dengan memberikan sekoci untuk mengirim balik para pencari suaka.

"Di masa lalu ketika mereka (Australia) mengembalikan perahu atau menarik perahu pengungsi kembali ke Indonesia, itu saja telah melanggar komitmen internasional di bahwa Konvensi pengungsi," kata Marty.

"Tapi kali ini telah meningkat," jelasnya.

Ia juga menyebut bahwa tindakan Australia tersebut  telah melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Marty menuturkan bahwa dirinya akan memberitahu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry yang diagendakan akan mengunjungi Jakarta pekan depan mengenai tindakan Australia tersebut. Namnu Marty tidak akan meminta Amerika Serikat untuk melakukan tindakan apapun.

"Tidak perlu meminta, kita hanya perlu menginformasikan, dan membiarkan Amerika Serikat menarik keseimpulannya sendiri," jelasnya.

Marty juga menyebut bahwa Indonesia akan membahas kebijakan Australia dengan negara-negara lainnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menyebut bahwa masalah pencari suaka merupakan perhatian Indonesia dan Australia. Ia mengaku kerap menjalin komunikasi dengan Marty dan menilai bahwa hubungan kedua negara masih positif.

"Kita memiliki jalur komunikasi terbuka dan saya kerap berbicara dengan Dr Natalegawa," katanya.

Namun ia tidak membantah bahwa ada tantangan dalam hubungan kedua negara.

"Itu adalah hubungan yang sangat positif. Tentu saja kita memiliki tantangan," jelasnya.

"Tak satupun dari kita ingin berada pada posisi di mana kita harus berurusan dengan perdagangan penyelundupan manusia," lanjutnya.

Sementara itu jurubicara oposisi Australia tentang imigrasi, Richard Marles menyebut bahwa paanggilan Moriarty oleh Marty Natalegawa merupakan langkah yang sangat serius untuk diambil. Ia menilai bahwa yang perlu dilakukan oleh kedua negara adalah saling menghargai kerjasama.

"Kita harus bekerja secara efektif bersama-sama antara Australia dan Indonesia; sebenarnya kita sekarang berada pada periode di mana kerjasama berharga sedikit sekali," jelasnya.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott memberlakukan kebijakan dan operasi penjagaan perbatasan atau Sovereign Borders untuk menghalau para pencari suaka yang akan masuk ke wilayah Australia dan memutarbalikkan perahu mereka. Abbott menyebut bahwa pemerintahannya berkomitmen untuk melanjutkan kebijakan tersebut.

Abbott menjelaskan bahwa pemberian sekoci oleh Australia terhadap para pencari suaka tersebut saat ini dilakukan untuk menyelamatkan para pencari suaka dari perahu yang tidak layak seperti yang mereka gunakan, agar dapat kembali ke Indonesia dengan aman.

Pada bulan Januari, pemerintah Australia mengklaim bahwa jumlah pencari suaka yang tiba dengan perahu di Australia telah turun 80 persen sejak operasi penjaga perbatasan diperkenalkan empat bulan lalu. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA