Jenderal Firouzabadi: Iran Siap Serang Balik AS dan Isarel dalam Perang Penentuan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 13 Februari 2014, 08:08 WIB
Jenderal Firouzabadi: Iran Siap Serang Balik AS dan Isarel dalam Perang Penentuan
Hassan Firouzabadi/net
rmol news logo . Iran sama sekali tidak memusuhi negara mana pun. Namun jika ada negara lain yang menyerang, Iran akan membalas serangan itu.

Demikian ditegaskan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Jenderal Hassan Firouzabadi. Pernyataan Firouzabadi ini untuk menanggapi ancaman sementara pejabat Amerika Serikat, yang menyebut akan menempuh berbagai opsi dalam menghadapi Iran, termasuk opsi militer.

Firouzabadi sendiri menilai ancaman aksi militer dari para pejabat Washington itu sebagai gertakan politik semata. Namun bila benar-benar ancaman itu dilaksanakan, maka Iran sudah siap untuk menghadapi setiap agresi militer.

"Kami siap untuk perang yang menentukan dengan AS dan rezim Zionis ," tegas Firouzabadi, sambil menambahkan bahwa pertempuran tersebut sudah disiapkan selama bertahun-tahun dengan melakukan berbagai latihan.

Dalam peperangan itu, sebagaimana dilansir kantor berita IRIB (Rabu, 12/2), Firouzabadi dengan tegas balik mengancam. Ia menegaskan bahwa semua kepentingan AS dan Israel akan menjadi sasaran bila perang benar-benar terjadi.

"Kami memperingatkan bahwa jika pasukan kami diserang dari wilayah manapun, kami akan menghantam semua posisi milik wilayah tersebut," tegasnya.

Sejauh ini, AS memiliki pangkalan militer di Bahrain, sekitar 200 kilometer dari Iran. AS juga disebutkan memiliki pangkalan militer di beberapa negara Timur Tengah lain yang berada cukup dekat dengan Iran.

Pekan ini, masyarakat Iran sedang ramai memperingati kemenangan Revolusi Islam yang ke-35. Revolusi yang terjadi pada 1979 di bawah kepemimpinan Ayatullah Imam Khomaini ini berhasil menumbangkan rezim Syah Reza Pahlevi. Syah ditumbangkan, bukan hanya karena korup, namun juga dinilai telah menjadi boneka Barat, terutama AS dan Inggris. Sejak Revolusi itu, hubungan Iran dan AS terus panas dingin. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA