Headline Media Singapura: Indonesia Tidak Berniat Buruk

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Rabu, 12 Februari 2014, 18:49 WIB
<i>Headline</i> Media Singapura: Indonesia Tidak Berniat Buruk
marty natalegawa
rmol news logo Pemerintah Indonesia sama sekali tidak berniat buruk di balik penggunaan Usman dan Harun sebagai nama salah satu kapal perang baru milik Indonesia.

"Indonesia 'meant no ill will' in naming of ship", begitu bunyi headline koran utama Singapura, The Straits Times edisi hari ini (Rabu, 12/2).

Reporter koran itu mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam wawancara di Jakarta.

"Indonesia sangat menghargai hubungan dengan Singapura dan semua dimensinya, dan kami sangat ingin melanjutkan hubungan itu on the track," ujar Marty seperti dikutip The Straits Times.

Menurut koran itu, pernyataan Marty merupakan upaya untuk mengurangi ketegangan yang dalam sepekan terakhir menjadi itu utama hubungan kedua negara.

Rabu pekan lalu, Menteri Luar Negeri Singapura K. Shanmugam menelepon Marty Natalegawa dan menanyakan laporan media di Indonesia mengenai penamaan sebuah KRI yang menggunakan nama Usman dan Harun. Kedua orang itu oleh Singapura dianggap sebagai teroris.

Sersan Usman bin H. Ali alias Djanatin dan Kopral Harun Harun alias Tohir bin Mahdar adalah dua prajurit Korps Komando TNI Angkatan Laut yang sekarang dikenal dengan nama Korps Marinir. Di masa konfrontasi dengan Malaysia, pada 10 Maret 1965 keduanya meledakkan sebuah bom di Gedung MacDonald, di Orchard Road, tak jauh dari kompleks Istana Singapura. Tiga orang tewas dan 33 lainnya luka.

Ketika itu Singapura masih merupakan bagian dari Kerajaan Malaysia sebelum memisahkan diri pada 9 Agustus 1965.

Usman dan Harun tertangkap dan diadili sebelum akhirnya dihukum mati di tiang gantungan tiga tahun kemudian.

Dalam wawancara dengan koran Singapura, Marty mengatakan bahwa menurut Indonesia peristiwa McDonalds itu sudah selesai di tahun 1973 ketika Perdana Menteri Lee Kuan Yew meletakkan karangan bunga di makam keduanya di TMP Kalibata.

Selain menghubungi Marty via telepon, Menlu Singapura juga mengirimkan sepucuk surat. Marty mengatakan dirinya akan membalas surat yang dikirimkan Menlu Singapura dalam waktu dekat. [dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA