Hal yang aneh dan dinilai tidak wajar, atau paling tidak memicu pertanyaan, bahkan di elit PDI Perjuangan sendiri, adalah dukungan kepada Jokowi dari sebagian elit yang lain. Sebagian elit ini dikenal sejak awal menolak sosok Jokowi.
Dalam Pilkada DKI Jakarta misalnya, sebelum ada keputusan resmi dari Megawati Soekarnoputri, sebagian elit lain ini jelas-jelas menolak, dan bahkan mengkerdilkan Jokowi. Jokowi dinilai tidak akan mampu memimpin Jakarta karena tidak menguasai masalah, sementara persoalan di Solo tidak sekomplek di Jakarta.
Karena itu tidak heran, muncul kecurigaan dari dalam, kelompok ini tidak tulus mendukung Jokowi, atau ada udang di balik batu.
Tidak tulus, karena bisa jadi dukungannya itu bagian dari manuver untuk memprovokasi dan membuat Megawati marah. Modus gerakan ini, mengangkat Jokowi setinggi langgit, dengan cara mendegradasi dan melemahkan kepemimpinan Megawati. Tujuannya, membatalkan pencapresan Jokowi yang sebenarnya sudah hampir 85 persen.
Selain tidak tulus, gerakan ini juga dinilai ada motif lain. Modusnya, secara
soft dan normatif mendukung Jokowi, namun dengan mulai mengajukan calon wakil presiden.
Kelompok ini cukup variatif. Ada yang mengusung calon wakil presiden dari luar karena punya hubungan, dan mungkin juga deal, dengan kelompok luar itu. Ada juga yang mengusung kader internal, yang kader internal itu selama ini dikenal jelas-jelas menolak dan tidak mendukung Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta lalu.
[ysa]
BERITA TERKAIT: