Andi Arief Minta Fenomena Karangantu Diselidiki Bersama

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Jumat, 07 Februari 2014, 22:19 WIB
Andi Arief Minta Fenomena Karangantu Diselidiki Bersama
rmol news logo Kantor Staf Khusus Kepresidenan bidang Bantuan Sosial dan Bencana meminta Pemerintah Daerah Banten, BMKG dan Badan Geologi melakukan penyelidikan bersama atas fenomena air surut tiba-tiba di pantai Karangantu Banten.

Dengan penyelidikan itu diharapkan akan diketahui apa yang menjadi penyebabnya sebenarnya, sehingga beda pendapat yang muncul dapat diakhiri.

"Diharapkan masyarakat akan mendapatkan info yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secepatnya," kata Andi Arief, Staf Khusus Kepresidenan bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam pesan elektroniknya kepada redaksi (Jumat, 7/2).

Dijelaskan Andi Arief, penyelidikan bersama antara Pemda Banten, BMKG dan Badan Geologi bisa dilakukan bekerja sama dengan para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics (GREAT), Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung,  Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Indonesia Maritime Institute (IMI), dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI).

Andi Arief menegaskan masyarakat sangat memerlukan informasi valid terkait fenomena tersebut, bukan beda pandangan. Seperti diketahui, BMKG menyatakan bahwa penyurutan air laut di Pantai Karangantu merupakan siklus alam biasa saja dan bukan karena naiknya aktivitas gunung Anak Krakatau.

Pendapat lain menyebut fenomena air surut tiba-tiba di pantai Karangantu Banten akibat pendangkalan yang mendadak. Karena musim hujan airnya membawa sedimen, dan banyak terendapkan dipinggir pantai. Ditambah pasang surut bulanan saat bulan mati. Karena kelerengan sudut dasar lautnya sangat kecil menyebabkan surut menjorok ke laut hingga satu kilometer jaraknya, walaupun secara vertikal hanya susut satu atau dua meter.

Ada juga yang menyebut fenomena tersebut harus dilihat apakah terjadi hanya di Karangantu saja atau di banyak tempat. Kalau terjadinya skala regional maka bisa diartikan  proses meteorologi, yang artinya air laut turun. Tapi kalau terjadinya skala lokal patut diduga adanya proses pengangkatan tektonik yang disebabkan oleh pergerakan patahan yang aseismik atau tidak mengeluarkan gelombang gempa karena gerakannya relatif perlahan.

"Persoalan ini sudah kami laporkan ke pada Presiden. Diharapkan agar dapat menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait," demikian Andi Arief. 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA