"Gita ingin mengambil point dari langkah mundurnya untuk membangun
trust dari publik kalau dirinya bisa dianggap sebagai penyelamat Demokrat dan SBY," kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 1/2).
Selain itu, ungkap Ari, Gita juga ingin memberi sinyal kepada para kompetitornya di Konvensi Demokrat kalau langkah mundur dari jabatan menteri adalah elegan dan terhormat. Jika ada calon lain juga mundur dari jabatannya karena fokus di Konvensi, publik akan menganggapnya sebagai
follower-nya Gita.
"Mundurnya Gita sudah dianggap plus oleh publik," urai pengajar program S2 dan S1 UI, yang meraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 ini.
Langkah mundur Gita Wirjawan mengundang pro dan kontra di publik. Dengan sisa pemerintahan SBY yang tinggal hitungan bulan, langkah Gita ini dianggap sebagian masyarakat sebagai politik tinggal gelanggang. Belum lagi, kisruh persoalan impor beras ilegal dari Vietnam yang kini tengah mengarah ke Kementrian Perdagangan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: