Dengan sisa pemerintahan SBY yang tinggal hitungan bulan, langkah Gita ini dianggap sebagian masyarakat sebagai politik tinggal gelanggang. Belum lagi, kisruh persoalan impor beras ilegal dari Vietnam yang kini tengah mengarah ke Kementrian Perdagangan.
Di luar pro dan kontra itu, menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, langkah Gita ini pasti didasarkan perhitungan politik yang cermat. Tim
think thank Gita pasti sudah menghitung dengan cermat nilai plus-minus dari keputusan Gita tersebut.
"Keputusan Gita pasti didasarkan pada optimisme tim-nya kalau Gita bisa memenangkan konvensi Demokrat," kata Ari, yang meraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 ini, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 1/2).
Harus diakui, ungkap Ari, Gita termasuk dalam jajaran lima besar peraih elektabilitas konvensi selain Pramono Edhi Wibowo yang didukung keluarga Cikeas, Dahlan Iskan yang diback-up pendiri Demokrat, Marzuki Alie yang disokong pengurus Demokrat daerah atau Anies Baswedan yang digandrungi anak-anak muda Demokrat.
"Jika Gita mundur, seolah-olah Gita tidak gila jabatan dan tidak mau disalahkan dengan kisruh beras Vietnam," demikian Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: