Bahkan, untuk memelihara amanat tokoh-tokoh besar bangsa, generasi penerus tidak boleh saling memendam kebencian dengan sesama anak bangsa, termasuk melanggengkan dendam pada tokoh-tokohnya yang hidup dalam era sebelum dan setelah reformasi.
"Kita hanya boleh dendam pada kelemahan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan yang terjadi dalam tubuh bangsa. Karena dengan sikap itu, berarti kita telah meneguhkan semangat dan perjuangan bersama untuk membangun perbaikan maupun bagi kemajuan Indonesia," kata tokoh muda asal Jawa Barat, Moh Jumhur Hidayat, saat berbicara dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 Tritura di Bandung, Jawa Barat (Sabtu, 18/1).
Para pejuang bangsa di masa kemerdekaan atau setelah kemerdekaan, lanjut Jumhur, hanya mengajarkan agar bangsa Indonesia mengedepankan harkat kemandirian, kemajuan, serta peran aktif dalam memerangi kebodohan dan kemiskinan rakyat. Dan dengan meninggalkan sikap dendam yang diikuti semangat menciptakan kehormatan bangsa, hal itu dapat memastikan adanya wujud kedaulatan nasional di mata bangsa-bangsa lain, selain akan memastikan masa depan Indonesia yang lebih baik.
"Mari tegakkan kedaulatan bangsa, kemandirian rakyat, dan kemartabatan nasional demi mencapai cita-cita para pendiri republik ini," tegas Jumhur.
Dalam kesempatan itu, Angkatan 66 Jawa Barat juga menyampaikan pernyataan mendukung Jumhur Hidayat, sebagai simbol muda nasional untuk menjadi pemimpin bangsa dan diharapkan ikut berkompetisi pada Pemilu 2014 mendatang.
Acara yang bertema "Dengan Semangat Tritura Kita Gagas Indonesia yang Berdaulat" ini diselenggarakan oleh Angkatan 66 Jabar. Hadir sejumlah tokoh senior Jawa Barat yaitu Tjetje Padmadinata, Engkos Hidayat selaku Ketua Angkatan 66 Jabar, HD Sutisno, Ketua Dewan Pensihat Paguyuban Pasundan H Syafei, dan DR Sudirman, pinisepuh Angkatan 66 Jabar.
[ysa]
BERITA TERKAIT: