Dalam rilisnya, peneliti LIPI itu menyebut bahwa megathrust Mentawai 600 km telah menghasilkan dua gempa bumi raksasa bersejarah yang memicu terjadinya tsunami besar, yakni pada tahun 1979 dan 1833.
Jaringan yang disebut SuGar atau Sumateran GPS continuous Array pertama kali dipergunakan pada tahun 2002. Ketika itu, SuGar menemukan adanya potensi bahaya bencana di wilayah Sumatera. Pasalnya, SuGar secara geologis, subduksi antar muka yang terletak di dasar kepulauan Mentawai dan berdekatan dengan wilayah Nias bagian utara telah sepenuhnya terkunci.
Melihat potensi tersebut, maka sejumlah kegiatan pun telah dilakukan untuk memperingatkan orang-orang atas adanya kemungkinan bahaya gempa bumi dan tsunami. Bahkan kegiatan tersebut telah dilakukan 4 bulan sebelum tanggal 26 Desember 2004, di mana tsunami berkekuatan 9.15 Magnitudo momen (Mw) melanda Aceh dan wilayah Samudera Hindia.
Menyusul tsunami yang terjadi di Aceh, sebuah gempa bumi megathrust yang berkekuatan 8.7 Mw kemudian melanda wilayah Nias dan Simelue pada Maret 2005. Pasca peristiwa tersebut sejumlah gempa bumi berkekuatan lebih kecil kerap terjadi di Sumatera. Hal tersebut merupakan peningkatan aktifitas gempa di wilayah sekitar.
Peristiwa gempa bumi kembar berkekuatan 6.2 Mw dan 6.4 Mw terjadi berturut-turut di wilayah Sumatera Barat pada Maret 2007. Selang tiga bulan kemudian, tepatnya September 2007, gempa bumi megathrust kembali terjadi di Sumatera. Hal tersebut merupakan kejutan besar sejak bagian khusus tersebut diprediksi sebagai bagian yang memiliki potensi sangat rendah dari model data yang dimiliki SuGar dan melewati bagian Mentawai yang lebih berpotensi antara tahun 2005 dan 2007.
Kemudian pada September 2009, sebuah peristiwa gempa bumi tak terduga lainnya terjadi dengan kekuatan 7.6 Mw akibat adanya subduksi lempeng di bawah kota Padang dan menewaskan sekitar 500 orang.
Padang sesungguhnya telah bersiaga bila terjadi tsunami, tapi tidak bersiaga untuk kejadian gempa bumi besar. Gempa bumi tersebut tampaknya telah menjadi pemicu munculnya gempa bumi lainnya di bagian Sumatera, dekat dengan danau Kerici pada kurun waktu tak kurang dari satu hari.
Selang setahun kemudian, tepatnya November 2010, sebuah gempa bumi tak terduga berkekuatan 7.8 Mw kembali terjadi di Pagai Selatan Kepulauan Mentawai. Gempa tersebut tidak menimbulkan guncangan besar, namun memicu munculnya tsunami dengan ketinggian 14 meter dan menewaskan sekitar 500 orang.
Sekalipun serangkaian gempa telah terjadi di tanah Sumatera, namun rupanya ketegangan lempengan bumi masih tersisa di ruas Mentawai, khususnya di bawah wilayah Siberut, Sipora, dan kepulauan Pagai Utara yang tinggal menunggu waktu untuk pecah dan keluar dengan kekuatan sekitar 8.8 Mw.
Selain Mentawai, gempa bumi masih diperkirakan mengancam dan kemungkinan terjadi di wilayah sepanjang Aceh dalam beberapa dekade mendatang. Selain itu, status serta karakteristik dari bagian megathrust di selatan Mentawai, Selat Sunda hingga Laut Jawa sebagian besar hingga saat ini belum diketahui. Sekalipun demikian, bukan berarti bagian tersebut tenang. Belajar dari pengalaman, maka seharusnya kita tidak hanya harus bersiap atas kejadian yang telah diprediksi, tapi juga bersiap atas kejadian yang tak terduga yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
[dem]