Betrokan tersebut, sebagaimana dilansir
Reuters, bermula dari aksi protes massa yang menolak pernyataan pemerintah yang menyebut bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kelompok teroris. Pernyataan pemerintah tersebut juga didukung oleh pihak militer.
Aksi protes yang dilaksanakan pasca sholat Jumat hingga Jumat Malam tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan 87 lainnya luka-luka. Bentrokan terjadi di Kairo dan empat kota lainnya di Mesir.
Menurut keterangan Kementerian Dalam Negeri Mesir, korban tewas pertama adalah remaja pendukung Ikhwanul Muslimin berusia 18 tahun yang tertembak di kota Damietta. Korban tewas selanjutnya terdapat di Minya, Kairo, dan terakhir di Aswan. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai korban tewas tersebut.
Selain itu, pasukan bersenjata juga menahan sedikitnya 265 massa pendukung Ikhwanul Muslimin, termasuk 28 orang wanita di antaranya.
Untuk diketahui, Ikhwanul Muslimin dinyatakan sebagai organisasi teroris setelah 16 orang tewas dalam serangan bunuh diri di pos polisi di Mansoura Kairo Utara pada Selasa (24/12) lalu.
Serangan bom dan pernyataan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris terjadi jelang dibentuknya referendum konstitusi baru Mesir yang dijadwalkan akan digelar pada 14-15 Januari 2014 mendatang. Rancangan konstitusi tersebut akan melarang partai-partai keagamaan dan menempatkan kekuatan yang lebih di tangan militer.
Pembentukan referendum konstitusi baru tersebut menyusul tumbangnya pemerintahan Morsy yang digulingkan dengan kudeta pada Juli lalu. Sejak saat itu, situasi politik di Mesir menjadi tidak stabil. Hampir setiap hari ada aksi protes yang dilakukan masyarakat ataupun kelompok masyarakat. Tidak sedikit diantaranya berujung dengan kekerasan ataupun serangan bom.
[ysa]
BERITA TERKAIT: