Maruarar Sirait: Sosok Bung Karno dan Film Soekarno Harus Dilihat Secara Obyektif

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Sabtu, 21 Desember 2013, 07:52 WIB
Maruarar Sirait: Sosok Bung Karno dan Film <i>Soekarno</i> Harus Dilihat Secara Obyektif
rmol news logo . Sebagai tokoh besar, ada banyak nama sematan yang ditujukan kepada Ir. Soekarno. Soekarno misalnya bukan hanya dikenal sebagai proklamator, melainkan juga pejuang kemerdekaan, inspirator, sang ideolog, intelektual, pemimpin besar Revolusi dan penyambung lidah rakyat. Namanya pun tidak hanya dielu-elukan oleh bangsa Indonesia, namun juga dibanggakan hingga di sudut-sudut Afrika.

Sebagai bahan kajian, Soekarno bisa dilihat dan dipandang dari sudut mana saja. Ibarat "teks", Soekarno menjadi objek "pembaca." Pembaca pun bisa menafsirkan Soekarno, yang tentu saja masih harus dalam bingkai obyektifikasi; obyektif terhadap sosok Soekarno, dan obyektif terhadap tafsir Soekarno.

Untuk obyektifikasi inilah, Taruna Merah Putih (TMP) menginisiasi nonton bareng film Soekarno. Film Soekarno, yang boleh dikatakan sebagai tafsir sutradara Hanung Bramantyo atas Soekarno, belakangan cukup menuai pro dan kontra. Dan nonton bareng, merupakan bagian dari proses obyektifikasi atas tafsir Soekarno.

"Bagaimana kita mau mengkritik, nonton saja belum. Kita tonton dulu, setelah menonton, baru kita nilai secara obyektif. Pro dan kontra, kritik-mengkritik itu biasa di alam demokrasi. Tapi harus tetap obyektif," kata Ketua Umum Taruna Merah Putih, Maruarar Sirait, sebelum acara nonton bareng dimulai di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Jumat malam (20/12).

Dalam nonton bareng ini, Maruarar juga mengundang sejumlah tokoh mahasiswa dan pemuda. Diantaranya, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Persatuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Hikmahbudhi dan Ansor. Bahkan, Maruarar juga mengundang langsung Sutradara Hanung Bramantyo dan Produser Film Ram Punjabi.

"Kita undang Hanung dan Pak Ram, kita bayarin mereka. Nanti teman-teman mahasiswa bila sudah nonton film ini, bisa menyampaikan masukan dan kritiknya secara langsung kepada mereka," tegas Ara, panggilan akrab Maruarar Sirait.

Usai nonton bareng, yang berlangsung selama 2 jam lebih, Ara pun langsung mengajak para mahasiswa dan pemuda untuk menyampaikan pandangan atas film tersebut, langsung di hadapan Ram Punjabi. Ketua Umum KAMMI, Adriana, mengapresiasi film atas sosok yang selama ini menginspirasi generasi dan pergerakan kaum muda. Namun ia juga memberi catatan, film ini juga sedikit banyak mereduksi ketokohan Soekarno.

Hal yang sama disampaikan Ketua Umum PMKRI, Lidya, yang selain mengapresiai hadirnya film ini, juga memberi catatan khusus. Adegan ketika Soekarno, yang saat itu menjadi guru, memeluk Fatmawati, yang saat itu merupakan muridnya, merupakan adegan yang tidak pantas disajikan. Ia pun berharap, adegan ini tidak berdampak pada kelakuan guru masa kini terhadap muridnya.

Masukan yang hampir sama disampaikan Ketua Umum HMI Muhammad Arif Rosyid, Ketua Umum GMKI Narno, Ketua Umum Hikmahbudi Adi Kurniawan dan Ketua Ansor Idris. Mereka mengapresiasi film tersebut, dengan memberi catatan disana-sini, agar ke depan, bisa diperbaiki lagi. Atas masukan-masukan ini, Ram berjanji akan terus memperbaikinya lagi, dan masukan-masukan ini sangat penting untuk membuat film biopik berikutnya.

Ara sendiri, yang merupakan Ketua DPP PDI Perjuangan, juga memberi catatan dan kritik langsung. Ara menilai, film ini lebih bisa disebut sebagai film roman, dibandingkan disebut film perjuangan. Sebab kisah-kisah romantisme Bung Karno dengan Bu Inggit Garnasih dan Bu Fatmawati sangat dominan dalam film ini.

Hal lain yang menjadi perhatian Ara, adalah soal Kemerdekaan. Film ini seakan-akan menggambarkan bahwa Kemerdekaan merupakan pemberian dan hadiah dari Jepang. Padahal, Ara menegaskan, Kemerdekaan merupakan hasil jerih payah semua pejuang, dan itu direbut, bukan diberikan.

Konten film lain yang menjadi perhatian Ara, adalah soal lokasi pembuangan. Bengkulu, sebagai lokasi pembuangan, memang sangat penting untuk disorot karena itu bagian dari sejarah Bung Karno. Namun Ara mengingatkan, pembuangan di Ende NTT juga seharusnya mendapat porsi yang lebih, dan tidak hanya ditampilkan sekilas. Bagaimanapun, di Ende ini, selain Soekarno berinteraksi dengan tokoh-tokoh agama, juga merupakan tempat Soekarno menggali Pancasila.

Di luar itu, Maruarar menilai ada pelajaran penting dari ketiga sosok yang ditampilkan dalam film ini; Soekarno yang intelektual-ideologis, Bung Hatta yang intelektual-moderat, dan Sutan Syahrir yang tegas dan keras. Dari Bung Karno, bisa dipetik pelajaran bahwa kondisi sosial dan politik yang berkembang bisa melahirkan strategi yang berbeda; apakah harus tegas menentang atau diplomatis-kooperatif. Kepada Belanda misalnya, Soekarno sangat tegas dan keras, sementara kepada Jepang cukup kooperatif. Dalam sejarah berikutnya, Soekarno juga sangat tegas menentang imperialisme dan kolonialisme baru yang dilakukan oleh lingkar negara-negara Barat.

"Hal sangat penting, apapun strateginya, harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip dan idealisme. Itu jangan luntur," tegas Ara, sambil mengatakan posisi Bu Inggit dan Bu Fatma dalam ikut memperjuangkan Kemerdekaan layak juga menjadi teladan bagi generasi sekarang dan berikutnya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA