Di Partai Golkar misalnya, belakangan muncul nama Syaefullah Yusuf yang bisa dijadikan pendamping Aburizal Bakrie. Adalah Wasekjen Golkar Lalu Mara Satria Wangsa yang mencoba memformulasikan duet Aburizal Bakrie dan Syaefullah Yusuf, yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur.
Di PDI Perjuangan, hingga saat ini, bola semakin liar dan tak terkendali di tengah sikap Megawati yang masih belum menentukan putusan. Belakangan ada gerakan senyap dari dalam untuk kembali mengusung Megawati dalam Pilpres mendatang, di tengah kehendak akar rumput PDI Perjuangan yang mau mengusung Jokowi sebagaimana terekam dalam Rakernas awal September lalu di Ancol.
Sementara itu, Konvensi Partai Demokrat belum juga
booming. Manuver politik SBY yang tadinya diniatkan untuk mendongkrak popularitas partai berlambang mercy ini yang ambruk, yang kata lembaga survei sebagai dampak dari kasus korupsi, belum membuahkan hasil apa-apa. Bahkan ada sementara peserta Konvensi yang merasa kecewa sebab merasa dibiarkan berjalan sendiri, tanpa mesin partai sama sekali.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini sedang mengggelar Pemilu Raya untuk mengusung Capres. Paling tidak, saat ini, ada tiga nama yang kuat. Yaitu Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, dan Ahmad Heryawan. Di tengah dua tarikan antara Hidayat dan Anis, Ketua DPP PKS Syahfan Badri Smapurno memprediksi bahwa Ahmad Heryawan bisa menjadi kuda hitam yang tiba-tiba muncul sebagai capres alternatif.
Â
Sedangkan Gerindra, hingga saat ini masih terus ikut mendukung uji materi persoalan presidential threshold di Mahkamah Konstitusi (MK). Faktanya, tingkat elektabilitas Prabowo yang cukup menjulang tinggi, tidak seiring-sejalan dengan tingkat elektabilitas partai yang masih saja terseok-seok. Bisa jadi Prabowo malah gagal menjadi capres.
Di tengah peta politik yang semakin cair ini, muncul wacana dan suara baru untuk mengusung capres dan cawapres alternatif. Di antara kalkulasi itu, adalah menduetkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo dengan Wakil Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Soekarwo, yang merupakan politisi Demokrat, berduet dengan Aher yang merupakan politisi PKS.
Duet ini dinilai cukup realistis. Pakde Karwo memiliki basis massa yang kuat di Jawa Timur, pun demikian dengan Aher yang punya basis massa di Jawa Barat. Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan lumbung suara pemilu dan Pilpres. Secara personal, kedua pasangan ini juga bisa menggaet suara di luar Demokrat dan PKS.
Bila ada calon yang bisa mengunci dua kawasan ini, dipastikan akan memenangkan Pilpres 2014.
[ysa]
BERITA TERKAIT: