"Dia (Gatot) harus minta maaf langsung ke saya," kata Thomas Sitepu yang didampingi tokoh masyarakat Karo di Jakarta, Hendra Sembiring kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (Jumat, 13/12).
Gatot harus minta maaf atas ucapannya saat menerima kedatangan Thomas bersama 15 aktivis GPTKS dan kalangan akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) pada Rabu (11/12) kemarin di Kantor Gubernur Sumatera Utara. Menurut Thomas, mereka menemui Gatot untuk menyampaikan situasi politik yang terjadi di Tanah Karo yang semakin memanas, termasuk soal rencana pemakzulan Bupati Tanah Karo Kena Ukur Karo Jambi Surbakti oleh DPRD Tanah Karo. Namun dalam pertemuan itu kata dia, terjadi peristiwa tak menggenakkan yang dialaminya sendiri.
Menurut Thomas, saat itu Gatot didampingi oleh Asisten I dan Sekwan Provinsi Sumatera Utara, termasuk Ketua DPRD Sumatera Utara Layari Sinukaban, tak enjoy menerima kedatangan Thomas dan kawan-kawan. Giliran Thomas menyampaikan pandangannya, terjadi insiden tersebut.
"Diawal berbicara saya mengatakan Saudara Gubernur", ujar Thomas yang menyatakan tidak menyangka kalau penyebutan Saudara Gubernur membuat Gatot tersinggung.
"Gatot tidak senang. Setelah itu dia bilang kau tidak sopan," kata Thomas mengutip apa yang diucapkan Gatot ketika itu.
Mendengar jawaban seperti itu, Thomas mengaku bingung dan sempat membuatnya malu. Dia pun sempat meminta alasan mengapa dirinya dianggap tidak sopan. Karena merasa dicuekin dan tak dihormati, akhirnya Thomas memilih keluar dari ruang pertemuan dan kemudian dengan menumpang becak dia kembali ke penginapan.
Tak lama kemudian Thomas ditelepon protokoler Pemda Sumatera Utara dan mengatakan kalau Gatot minta maaf. Menjawab telepon itu, Thomas tidak mau menerima permintaan maaf Gatot dan balik menudingnya sebagai Gubernur kacangan.
"Sebagai tokoh eksponen 66 saya jelas tersinggung dan marah diperlakukan seperti itu. Tapi saya tidak dendam," ujarnya.
Atas perlakuan tersebut, dia pun melaporkan insiden tersebut ke tokoh Eksponen 66 yang ada di Jakarta seperti Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Akbar Tandjung dan Sudi Silalahi. Mereka ujarnya, menyayangkan sikap Gatot yang tak menghormati Thomas yang juga merupakan salah satu anggota masyarakat Karo yang prihatin terhadap persoalan yang terjadi di sana.
Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap persoalan di Tanah Karo dan tekadnya agar Bupati Karo Kena Ukur mundur, Thomas membotaki kepalanya lewat prosesi "Padan". Pemotongan rambut dilakukan oleh kerabatnya sendiri disaksikan masyarakat Karo. Atas insiden itu, Thomas meminta agar Gatot menyampaikan permintaan maaf di Jakarta dan berdialog dengan dirinya disaksikan tokoh eksponen 66 dan tokoh masyarakat Karo dari lima marga.
"Kita tunggu saja responnya. Kalau dia mau datang, besok juga bisa dilaksanakan," ujarnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: