Kawanan hama belalang ini memakan daun dan batang benih padi muda hingga pangkal. Akibatnya bulir benih membusuk.
"Padahal sudah disemprot menggunakan insektisida. Tapi belalang tetap menyerang," kata seorang petani di Karangreja Kecamatan Lumbir, Suwarto, Jumat (22/11).
Suwarto mengatakan beberapa rekannya bahkan rela menunggui dederan benih untuk menghalau belalang. Namun kawanan belalang akan kembali ke tempat pendederan benih begitu ditinggal.
"Saya sudah menyemprotkan insektisida dua hari sekali. Tapi pertumbuhannya tetap terganggu," katanya.
Benih padi yang ditebar Suwarto saat ini sudah berumur 17 hari. Pada umur tersebut biasanya tinggi benih mencapai 20 centimeter atau lebih. Namun karena ujungnya selalu dimakan belalang saat ini hanya bertinggi 15 centimeter.
"Ini masih beruntung. Banyak yang terpaksa menebar ulang," ujarnya.
Beberapa petani sebenarnya sudah diimbau untuk menggunakan racun serangga sistemik yang ditebar di pendederan benih. Namun banyak petani menolak. Sebab racun sistemik ini juga membunuh hewan lain yang sebenarnya bukan pengganggu.
"Kalau menggunakan racun sistemik belut ikut mati. Begitu pun dengan cacing, katak, ikan kecil danlainnya turut mati. Kami berusaha menghindari penggunaan racun jenis ini," tukas petani lainnya, Rosadi.
Rosadi mengatakan banyak petani yang justru menggunakan penangkal belalang alami. Seperti memanfaatkan daun sirsak dan daun sengon. Dedaunan ini ditumbuk kemudian ditebarkan ke lahan pendederan. Dengan cara ini terbukti serangan belalang berkurang.
[ysa]
BERITA TERKAIT: