Gita misalnya mengatakan, bila pemutusan hubungan diplomatik Indonesia-Australia terjadi maka harga daging bisa mencapai Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 per kg. Pernyataan Gita ini nampak lebih melihat sisi ekonomis belaka, tanpa memperhatikan arti sebuah martabat dan kedaulatan sebagai bangsa.
Protes pada Gita misalnya datang dari Wakil Sekjen DPP Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa. Lalu Mara, yang selama ini memperjuangkan produksi dan industri dalam negeri di Nusa Tenggara Barat, dalam laman
facebook-nya mengecam keras pernyataan Gita.
"Begini kalau otak menteri isinya cuman impor dan impor! Seorang Menteri tidak melihat potensi laut, sayur mayur dan lain-lain yang lebih berprotein ketimbang daging sapi Australia. Seolah-olah tidak makan daging sapi Australia, rakyat merana," tulis Lalu Mara, siang ini (Kamis, 21/11).
Lalu Mara menegaskan, ia sendiri tidak setuju dengan pemutusan hubungan diplomatik. Namun bagaimanapun, Indonesia harus menunjukkan sikap yang tegas. Ada banyak cara untuk menunjukkan sikap yang tegas.
Misalnya, sejak kemarin Lalu Mara menggulirkan wacana untuk memboikot produk Australia. Wacana yang digulirkan Lalu Mara ini menyikapi pernyataan Perdana Menteri Australia, Tonny Abbott, di hadapan parlemen, yang menegaskan tidak akan meminta maaf kepada rakyat dan pemerintah Indonesia karena giat intelijennya merupakan bagian dari menjaga negara sendiri.
"Sikap yang sangat pongah memang. Ayo kita ramai-ramai boikot produk Australia, dan jangan takut bule atau wisatawan Australia tidak datang ke Indonesia," tegas Lalu Mara.
Lalu Mara pun cukup heran dengan sikap Presiden SBY yang baru seminggu terakhir ini bersikap cukup keras. Padahal saat Wapres Boediono melakukan kunjungan ke Australia sebelumnya, informasi penyadapan intel Australia sudah meledak di media massa.
"Sepertinya ada sesuatu nih," ungkap Lalu Mara penuh curiga.
[ysa]
BERITA TERKAIT: