"Dubes hanya dipangil oleh Kemenlu untuk 'koordinasi' yang tidak jelas apa maksudnya," kata mantan Menteri Sekretaris Negara, Yusril Ihza Mahendra, dalam akun
twitter-nya, Senin malam (18/11).
Yusril pun mengira, Dubes Australia dipanggil hanya untuk di-briefing mengenai sikap RI yang mengutuk penyalahgunaan fasilitas diplomatik untuk kegiatan spionase.
Sikap Pemerintah RI sekarang ini, lanjut Yusril, beda jauh dengan sikap Presiden Suharto yang tegas terhadap Uni Soviet pada akhir tahun 1970-an. Waktu itu sejumlah diplomat Soviet memata-matai Indonesia, temasuk staf penerbangan Airofolt.
Pemerintah Suharto pun mengusir diplomat Soviet tersebut dan minta negaranya mengurangi jumlah diplomatnya di Jakarta. Bahkan, penerbangan Airoflot dari Moscow ke Jakarta juga ditutup oleh Pemerintah Suharto.
"Pemerintah RI sekarang ini begitu lembek sikapnya terhadap negara asing yg menginjak-injak kehormatan kita sebagai sebuah bangsa," sesal Yusril.
[ysa]
BERITA TERKAIT: