"Pemerintah RI, termasuk Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa terlalu naif," kata Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Andreas Hugo Paraeira, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 18/11) terkait dengan aksi penarikan Duta Besar Indonesia di Australia.
Andreas mengingatkan lagi, aksi penyadapan Australia ini merupakan akibat dari prinsip politik luar negeri SBY yang
thousand friends zero enemy yang naif utopis. Padahal seharusnya, pemerintahan SBY lebih realistis dan menyadari bahwa karakter hubungan internasional secara universal memang lebih realis ketimbang idealis-utopis.
"Politik luar negeri dan politik pertahanan-keamanan memang seharusnya mengedepankan prinsip realisme politik yang berbasiskan kepentingan nasional, dan untuk itu apapun dilakukan oleh suatu negara demi membela kepentingan nasional," tegas Andreas.
Ini, lanjut Andreas, merupakan prinsip yang biasa dipraktekan oleh negara manapun di dunia dengan pemimpin-pemimpinnya yang rasional, dari dulu sampai sekarang, dan tidak akan pernah berubah.
Karena itu, terakhir, Andreas mengingatkan, kasus penyadapan ini harus menyadarkan pemerintahan SBY dan jajaran diplomasinya untuk lebih realistis terhadap hubungan internasional modern, ketimbang mengedepankan politik luar negeri
thousand friend zero enemy yang lips service.
[ysa]
BERITA TERKAIT: