PENCARI SUAKA

Indonesia Harus Waspadai Sikap Licik Australia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 13 November 2013, 11:57 WIB
Indonesia Harus Waspadai Sikap Licik Australia
hikmahantp/net
rmol news logo . Saat ini, Indonesia sedang bernegosiasi dengan Australia terkait pencari suaka.  Dalam negoisiasi itu, kata Deputi urusan Politik pada Kantor Wakil Presiden Indonesia, Dewi Fortuna Anwar, Indonesia akan menerima pencari suaka yang ditolong oleh kapal Australia sepanjang Australia mau menerima dalam jumlah yang sama para pencari suaka yang berada di Rumah Detensi Imigrasi.

Menurut gurubesar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, ide pertukaran pencari suaka yang diungkap oleh Dewi Fortuna Anwar sebenarnya merupakan solusi win-win. Namun sepertinya ini tidak akan diterima oleh pemerintah Australia.

"Memang bagi pemerintah Australia para pencari suaka tidak dikehendaki kehadirannya dan tanpa suatu proses yang sewajarnya para pencari suaka serta merta dilabel sebagai imigran gelap," kata Hikmahanto kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 13/11).

Bila pencari suaka telah dilabel sebagai imigran gelap, ungkap Hikmahanto, maka otoritas Australia mempunyai hak untuk menghalau dan mengembalikannya ke Indonesia. Hal ini, suatu situasi yang tidak menguntungkan Indonesia. Dan sikap Pemerintah Australia seperti itu, dari kacamamata pemerintah dan publik Indonesia, akan dianggap mau menang sendiri.

"Mereka akan dianggap licik karena hanya membebankan dan menyalahkan Indonesia dalam penanganan pencari suaka. Oleh karenanya pemerintah Indonesia harus terus waspada dengan berbagai manuver yang dilakukan oleh Perdana Menteri Tony Abbott beserta jajarannya terkait penanganan pencari suaka," demikian Hikmahanto. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA