Pertanyaan ini masih menggelayut di benak sementara orang, dan terutama pengamat. Dan faktanya, hingga saat ini, PDI perjuangan belum memutuskan calon presiden. Bahkan arena Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada awal September lalu di Ancol, hanya memutuskan rekomendasi, yang minus capres.
Di balik teka-teki itu, ada fenomena menarik. Hingga saat ini, Joko Widodo, paling tidak di depan publik, selalu menghindar bila disinggung soal capres. Saat ditawari ikut Konvensi Demokrat, Jokowi dengan tegas mengatakan bahwa ia adalah kader PDI Perjuangan.
Fenomena Jokowi ini membalikkan sementara politisi, yang terutama ada di daerah-daerah. Tidak sedikit politisi, yang akhirnya pindah partai karena tergiur tawaran untuk menjadi kepala daerah dari partai lain.
Jokowi terbukti merupakan kader yang loyal dan tahu etika politik.
Dari sisi Megawati, ini juga menarik. Hingga saat ini, Megawati masih berteka-teki bila terkait capres. Sesekali ia mulai menghubungan Jokowi dengan "pemimpin yang ideal." Di lain kesempatan, Megawati mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah.
Fenomena Megawati yang menarik adalah dia, sebagai ketua umum partai, sama sekali tidak merasa tersaingi dengan Jokowi. Sebaliknya, dan ini berbeda dengan sikap sementara ketua umum lain, Megawati justru membesarkan nama Jokowi di depan publik.
Megawati kini lebih mencerminkan sosok negarawan, dibanding politisi biasa.
Di balik fenomena Megawati dan Jokowi ini, tentu saja, publik, dan juga pesaing lain, masih menunggu keputusan akhirnya. Sebab penentu peta politik di 2014 adalah Megawati. Peta akan nampak setelah Megawati memutuskan capres; apakah dia sendiri, Jokowi, atau sosok lain yang masih disembunyikan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: