Begitu antara lain isi deklarasi Bali Media Forum (BMF) ke-5 yang digelar di Nusa Dua, Bali antara tanggal 6 hingga 8 Novembr lalu. Sebanyak 70 peserta yang berasal dari 24 negara menghadiri kegiatan yang diselenggarakan Dewan Pers bekerjasama dengan Thomson Foundation, Institute for Peace and Democracy (IPD), dan Ethical Journalism Network (EJN).
Seperti sebelumnya, BMF merupakan bagian dari kegiatan Bali Democracy Forum (BDF) yang digelar di tempat yang sama. BMF ke-5 ini mengambil tema yang sangat spesifik, yakni
Ethics, Journalism and Democracy: Taking the Hate out of Media and Politics.
Di dalam deklarasi itu juga disebutkan bahwa perusahaan media dan pemimpin redaksi harus menyusun pedoman peliputan dan memastikan para wartawannya terlatih serta menyadari kewajiban etis mereka dalam peliputan pemilu.
Media massa juga didorong untuk memiliki sistem internal guna menghindari konflik kepentingan, untuk mempromosikan transparansi dan independensi editorial serta untuk melindungi dari gangguan yang tidak semestinya terhadap ruang redaksi oleh pemilik dan pemegang saham perusahaan pers.
Pada bagian lain deklarasi ditegaskan, media harus terus-menerus memperbarui cakupan pemberitaan dan memastikan liputan yang berimbang. Media harus memastikan semua kandidat serta partai besar dan partai kecil diperlakukan dengan pertimbangan yang sama. Pendapat kelompok minoritas dan kelompok marjinal yang rentan juga harus didengar.
Deklarasi yang disepakati oleh seluruh peserta BMF itu pun mendorong agar organisasi media dan wartawan bekerja sama melakukan berbagai langkah terkait peliputan pemilu.
Pemerintah dan partai politik juga diminta untuk memberikan jaminan keselamatan dan keamanan kepada jurnalis yang meliput pemilu, serta di saat yang sama menghindari upaya memanipulasi media dengan cara yang korup dan menghapus segala bentuk pernyataan politik yang menghasut kebencian atau kekerasan.
[dem]
BERITA TERKAIT: