"Dalam sejarah konflik dualisme HMI, selalu ada orang kuat di balik konflik itu. Konflik di HMI tidak pernah spontan apalagi sekedar gerakan instan," kata mantan Ketua PBHMI Periode 2006-2008, Jailani Paranddy, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 31/10)
Menurut Jailani, tradisi minta restu dari kalangan senior untuk melakukan sebuah gerakan kerap dilakukan kader-kader HMI. Artinya sebuah gerakan di HMI tidak akan hadir begitu saja jika tidak ditopang secara moral dan materi oleh tokoh alumni HMI tertentu. Apalagi, panitia Kongres Tandingan Malang sudah mengatakan bahwa mereka didukung oleh alumni HMI dan oknum KAHMI.
"Perlu saya luruskan, mungkin secara formal, KAHMI tidak terlibat seperti apa yang dibantah oleh Presidium Majelis Nasional KAHMI Viva Yoga Mauladi. Tapi secara informal, ada alumni HMI atau KAHMI diam-diam mendorong kongres tandingan di Malang," tegasnya.
Soal motif di balik gerakan ini, Jailani menilai Ketua Umum PBHMI yang terpilih, Arief Rosyid, bukanlah ketua umum yang diinginkan oleh selera politik alumni HMI tertentu. "Konon kabarnya alumni yang bersangkutan tidak terima dengan kepemimpinan PBHMI saat ini, dan menganggap bahwa konflik di PBHMI belum selesai, makanya beliau mendorong Kongres tandingan," ujarnya.
Jailani mengatakan, dirinya tidak setuju dengan gerakan Kongres tandingan tersebut, meskipun mungkin hasil kongres HMI yang sudah berlangsung dan terpilihnya Arief Rosyid dianggap bermasalah. "Bagi kami menerima hasil kongkres kemarin adalah cara bijak untuk meredam konflik. Karena tidak mudah menyelesaikan konflik di HMI. Apalagi itu sudah menyangkut soal posisi atau jabatan Ketua umum organisasi," tegasnya, sambil berharap kader HMI diberi kesempatan untuk memperbaiki internalnya sendiri.
[ysa]
BERITA TERKAIT: