Ini adalah teori umum yang selama ini paling dipercaya mengenai sebab-sebab kepunahan kelompok makhluk bertubuh raksasa itu.
Penelitian terakhir yang dilakukan tim yang dipimpin DR Sandra Rehan dari University of New Hampshire di Durham, Amerika Serikat, mengatakan bahwa kejadian 66 juta tahun lalu itu juga berdampak pada spesies tertentu di muka bumi.
Kepunahan, menurut DR. Rehan dalam tulisannya di
Plus One Journal terjadi secara selektif, dan memberikan dampak yang lebih besar kepada spesies tertentu dibandingkan spesies lain.
Tulisan DR. Rehan didasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap fosil dan analisa DNA dan memperlihatkan bahwa sekelompok lebah mengalami penurunan jumlah bersamaan dengan benturan meteroid itu.
Peneliti memilih untuk menstudi lebih jauh lebah dari kelompok subkeluarga
Xylocopinae yang di dalamnya juga termasuk lebah kayu. Menurut mereka, sejarah evolusi lebah ini dapat ditelusuri jauh ke belakang hingga Periode Cretaceous, ketika dinosaurus masih berjalan di atas bumi.
"(Tidak seperti dinosaurus), sedikit sekali catatan mengenai fosil lebah," ujar DR. Rehan merujuk pada salah satu hambatan utama penelitian mereka.
Namun demikian, DR. Rehan dan kawan-kawannya berhasil menggunakan sekelompok
Xylocopinae yang sudah punah sebagai titik kalibrasi untuk menentukan kepunahan mereka.
Mereka juga berhasil mempelajari fosil bunga-bungaan yang berkaitan dengan kelompok lebah yang punah itu.
"Data yang kami peroleh mengatakan bahwa sesuatu yang begitu besar telah terjadi terhadap empat kelompok lebah yang berbeda di saat bersamaan," ujarnya DR. Rehan lagi.
"Dan ini terjadi bersamaan dengan kepunahaan dinosaurus," sambungnya.
Penelitian DR. Rehan dan kawan-kawan ini berimplikasi pada diversitas lebah hari ini, dimana lebah merupakan elemen vital dalam pertanian dan biodiveristas.
[dem]
BERITA TERKAIT: