"Motif (tidak memasukkan nama Jokowi dalam capres yang disurvei) untuk apa? Kan harusnya untuk publik, lalu itu untuk apa motifnya kalau ada nama yang dikeluarkan dari survei. Kalau metodologi (survei)
clear. Tetapi motifnya dipertanyakan," kata Ketua DPP PDI Perjuangan, Bambang Wuryanto, saat dihubungi bebertapa saat lalu (Kamis, 24/10).
Bila memang ada motif untuk memprovokasi dan memecah PDI Perjuangan, Bambang menilai sah-sah saja. Mungkin ada pihak-pihak tertentu yang mau membangun persepsi, dan menganggap persepsi itu lebih penting dari realitas. Namun Bambang mengingatkan, keputusan capres PDI Perjuangan ada di tangan Megawati, dan kebijakan Megawati tidak keluar karena provokasi pihak tertentu.
"Kami meyakini, Ibu Ketum kapasitasnya dalam berpolitik, istilah dalam akademiknya sudah profesor doktor. Sudah menjadi ketua umum sejak 1993, 20 tahun memimpin, pengalaman paling matang, pernah terlempar dari Istana saat bapaknya sisingkirkan, kemudian saat itu tidak ada orang yang berani mendekati karena akan dianggap pro Bung Karno, kemudian dalam perjuangan panjangnya kembali lagi ke Istana. Jadi sudah sangat matang," jelas Bambang.
Dengan demikian, Bambang yakin Megawati tidak akan terprovokasi hasil survei. Dan momentum beberapa pilkada menunjukkan bahwa Megawati memang mengeluarkan keputusan bukan karena sebuah provokasi. Tidak ada yang menyangka misalnya, bila Megawati menunjuk Jokowi di jakarta, Rieke di Jabar, Effendi Simbolon di Sumatera Utara atau Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Dan pilihan Megawati itu tepat.
"Silakan kalau ada upaya membangun persepsi, mengadudomba. Tetapi saya yakini beliau tidak akan terprovokasi," demikian Bambang.
[ysa]
BERITA TERKAIT: