Demikian disampaikan peneliti Central Party School Partai Komunias China, Dr Zheng Qi, saat menerima delegasi PDI Perjuangan. Zheng Qi melanjutkan, akibat dari kemakmuran yang berpusat di kota itu maka PKC kesulitan untuk menugaskan pemimpin partai di basis-basis desa. Sementara mencari pemimpin untuk basis perkotaan jauh lebih mudah.
Untuk mengatasi persoalan ini, kata Zheng Qi, sebagaimana disampaikan politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari beberapa saat lalu (Rabu, 23/10), PKC merekrut 3 ribu sarjana untuk dididik di sekolah partai selama enam bulan. Materi pokok pembekalan adalah sejarah partai, sebagai pendidikan untuk membangun loyalitas, juga persoalan ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan lain-lain.
Begitu pendidikan selesai, para sarjana itu diseleksi untuk bertugas di desa selama dua tahun. Tiap sepuluh alumni akan disaring sehingga ditemukan seorang pemimpin. Seleksi cukup rumit, karena 10 orang tersebut akan menjalani ujian tulis dan interview oleh pejabat partai kecamatan dan perwakilan masyarakat . Setelah tersaring lima orang, maka akan diseleksi lebih lanjut oleh departemean organisasi PKC untuk diteliti, dengan meminta masukan dari masyarakat desa. Tiga kader terbaik akan diseleksi lebih lanjut oleh komite tetap tingkat desa dengan tetap menyertakan unsur perwakilan masyarakat.
Di akhir penugasan, masyarakat desa akan diminta masukan terhada kinerja mereka. Dan setelah dua tahun, "para sarjana masuk desa" tersebut diprioritaskan untuk mengikuti seleksi menjadi pekerja sosial, yang bekerja di yayasan-yayasan yang didukung pemerintah, atau diprioritaskan menjadi PNS.
"Pilihan lain adalah berkarir di PKC, siap ditugaskan apa saja, termasuk di pemerintahan, mengikuti jejak Xi Jinping yang kini jadi pemimpin China. Xi Jinping adalah produk pemimpin desa," demikian Eva.
[ysa]
BERITA TERKAIT: