
. Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang membuat dua kategori, yaitu capres wacana dan capres riil, terkesan sangat tendensius. Sebab memisahkan kandidat potensial dalam "keranjang yang lain" sehingga akan mempengaruhi opini.
"Dengan cara meletakan Jokowi dan Prabowo di keranjang yang lain maka peta pertarungan dalam pilpres seolah-olah antara Mega lawan ARB. Ini bisa mempengaruhi penilaian pemilih karena hanya diberi dua pilihan," kata pengamat politik Universitas Gajah Mada (UGM), dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 21/10).
Menurut Ari, penyebutan kandidat wacana oleh survei tersebut juga memilki kreteria yang berbeda. Kalau untuk Jokowi, survei itu melihat posisi Jokowi bukan pengendali partai. Sedangkan untuk Prabowo lebih karena peluang untuk capai
presidential thrashold.
"Kreteria yang berbeda ini tentu dipertanyakan karena Mega juga belum resmi, begitu pula capres konvesi Demokrat. Yang sudah jelas baru Ical, dan itupun masih dipersoalkan secara internal," demikian Ari.
[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: