Aneh Bila LSI Kategorikan Jokowi ke Dalam Capres Wacana

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 21 Oktober 2013, 16:04 WIB
Aneh Bila LSI Kategorikan Jokowi ke Dalam Capres Wacana
usman hamid/net
rmol news logo . Survei capres Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang tidak memasukkan nama Joko Widodo, dengan alasan capres wacana, cukup janggal, bahkan aneh. Dan faktanya, agak susah diterima memasukkan Jokowi sebagai capres wacana sebab dia merupakan people darling.

"Kebetulan saya baru selesai riset dengan lembaga baru saya. Menurut riset Public Virtue Institute yang baru kami luncurkan Jumat 18 Oktober  lalu,  percakapan soal Jokowi paling menarik dan paling banyak di sosial media jika bicara tokoh politik," kata Direktur Eksekutif Public Virtue Institute, Usman Hamid, di Jakarta (Senin, 21/10).

Di era kepemimpinan Jokowi, meski baru seumuran jagung, kultur kerja Pemda mulai mengalami shock therapy dan selanjutnya memperlihatkan kemajuan. Dari segi itu, Jokowi menjadi harapan baru perubahan Jakarta.

"Menariknya, Jokowi itu masuk atau cocok juga ke generasi muda pengguna media sosial. Itu hasil dua penelitian PVI. PVI memprediksikan, Jokowi membawa Jakarta Baru ke Indonesia Baru," katanya.

Memang kata Usman, ada juga berharap Jakarta Baru dulu, baru setelah itu Indonesia Baru. Tapi jelas sekali Jokowi sudah  mempunyai modal awal untuk dialog dan membangun semacam connectedness dengan publik yang lebih  luas.

"Singkatnya, PVI menemukan fakta, Jokowi adalah jembatan politisasi kesadaran publik media sosial yang mewakili publilk real atas persoalan-persoalan publik utama di Jakarta," demikian Usman. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA