"Bersikaplah ksatria untuk meminta maaf bukan malah bersembunyi," kata Djoko Suyanto di Jakarta, Minggu pagi (20/10).
M. Rahmad sebelumnya menceritakan penangkapan Prof. Subur saat ingin menghadiri dialog bertajuk "Dinasti Politik dan Politik Meritokrasi", di Rumah Pergerakan, yang merupakan rumah Anas Urbaningrum di Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat siang (18/10).
Pernyataan tersebut disampaikan Menko Polhukam menanggapi sanggahan Kepala BIN Letjen Marciano Norman dan Prof. Subur Budhisantoso sendiri yang membantah adanya penculikan sebagaimana disampaikan M. Rahmad, Rahmad dalam video youtube berjudul "Pembicara Rumah Pergerakan Dijemput Staf BIN" .
Djoko Suyanto seperti dikutip situs resmi Sekretariat Kabinet RI, juga meminta yang menuduh BIN menculik Prof. Subur Budhisantoso untuk berani muncul ke publik, untuk mengatakan bahwa pernyataannya tidak benar, karena pernyataannya yang ia sampaikan juga di depan publik.
Kepala BIN Letjen TNI Marciano Norman dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Sabtu malam (19/10) mengungkapkan, pihaknya akan menempuh upaya hukum jika pemberitaan yang menyebutkan BIN menculik mantan Ketua Umum Partai Demokrat Profesor Subur Budhisantoso terus bergulir.
"Apabila hal-hal ini terus bergulir, BIN akan menggunakan haknya. Hak jawab melalui media kami lakukan. Bahkan bila diperlukan proses hukum akan kami lakukan," ujar Marciano, sambil menambahkan pemberitaan ini telah membuat BIN menjadi tercoreng, dan ia juga minta mereka yang menyampaikan pernyataan menuding BIN harus bertanggung jawab.
[rus]
BERITA TERKAIT: