Mentawai Butuh Pertahanan dan Keamanan Laut yang Maksimal

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Jumat, 18 Oktober 2013, 15:14 WIB
rmol news logo Dalam posisinya sebagai pulau terluar di bagian Barat Indonesia, Mentawai membutuhkan pertahanan dan keamanan laut maksimal karena berhadapan dengan Samudera Indonesia, yang merupakan pintu masuk berbagai macam potensi ancaman keamanan dan pertahanan laut. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus segera memberi perhatian penuh terhadap posisi strategis Kepulauan Mentawai.

Demikian ditegaskan Bupati Mentawai, Judas Sabaggalet dalam diskusi "Penegakan Hukum di Laut yang Efektif Dalam Rangka Menjamin Tercapainya Kesejahteraan Rakyat," di Jakarta, Kamis (17/10). Diskusi diadakan oleh Institut Keamanan dan Keselamatan Maritim Indonesia (IK2MI) dihadiri para pemangku kepentingan laut dari berbagai instansi termasuk TNI AL dan Bakorkamlam RI.

Dijelaskan, penempatan kepulauan Mentawai sebagai daerah tertinggal menempatkan daerah ini pada posisi yang sulit berkembang dan sangat bergantung pada dinamikan politik di Propinsi Sumatera Barat. Seharusnya, diusulkan Judas Sabaggalet, Kepulauan Mentawai harus diposisikan sebagai daerah strategis bagi pertahanan dan kedaulatan Negara Indonesia di sebelah paling barat Indonesia. Dengan posisi strategis ini Kepulauan Mentawai harus dibangun secara terintegrasi.

Kepulauan Mentawai, Judas menerangkan, terdiri dari tiga pulau besar yakni Siberut, Sipora dan Bagai (Sikakap). Namun demikian,  ketiga pulau besar ini minim alat transportasi.

"Memang ada kapal penghubung namun frekuensinya sangat jarang yaitu dua kali seminggu. Bahkan untuk menuju ke pulau-pulau terdekat, tidak jarang, masyarakat Mentawai harus ke Padang terlebih dahulu dengan tempuh jarah kapal 7 jam, sementara jarak untuk berhubungan pulau satu dengan yang lain sekitar 1 – 3 jam. Dalam kondisi seperti ini, Kepulauan Mentawai akan terus menjadi daerah tertinggal," ujarnya.

Oleh karenanya, Kepulauan Mentawai harus dilihat sebagai daerah strategis terkait dengan pertahanan, keamananan dan kedaulatan wilayah Indonesia. Dengan paradigma yang baru ini, Mentawai membutuhkan pangkalan laut TNI AL dan juga fasilitas pendukung lainnya yang pada akhirnya semua itu akan mendorong terbentuknya pembangunan terintegrasi di semua bidang.

"Saya berharap bahwa suatu hari, jarak tempuh Padang–Mentawai hanya memakan waktu jarak tempuh 3 jam untuk jarak 145 km. Selama ini, waktu tempuh Padang–Mentawai adalah 10–11 jam menggunakan fery biasa. Dan percepatan waktu tempuh itu merupakan indikator pembangunan ekonomi yang bagus," jelasnya.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA